Heran ?!

Ibnul Qayyim mengatakan, “Sebenarnya tidak ada yang menakjubkan dari firman Allah Azza wa Jalla:

“Dan mereka (orang-orang yang beriman) mencintai-Nya (Allah).” [Al-Maa'idah: 54]

Akan tetapi yang menakjubkan adalah firman Allah Azza wa Jalla:

“Dan Allah mencintai mereka (orang-orang beriman).” [Al-Maa'idah: 54]

Lanjutkan membaca

Tidak Ada Masalah yang BESAR karena Kita Punya Alloh Yang MAHA BESAR

Have you ever been to the Red Sea shore in your life

Where inspite of everything you can do

There is no way back, there is no way out

There is no other way but through

Dalam hidup ini, selalu ada masalah yang menghadang dan tantangan yang menunggu untuk ditaklukkan. Layaknya kegiatan arung jeram, yang membuat nikmat adalah karena adanya jeram untuk diarungi.

Dikisahkan, karena mematuhi perintah Alloh, Nabi Musa membawa seluruh orang Yahudi pindah keluar dari tanah Mesir. Karena pada masa itu, orang-orang Yahudi menjadi tindasan Fir’aun, sebagai penyedia tenaga buruh (budak) yang gratis bagi Fir’aun. Dalam pelarian inilah, Nabi Musa dihadapkan dengan ujian dari Alloh yang cukup berat.

Ketika rombongan yang besar itu sampai ke laut Merah, terlihat di belakang mereka lasykar Fir’aun yang siap akan menghancurkan mereka, datang mengejar. Maka Nabi Musa dihadapkan dengan jalan buntu. Padahal beliau sampai ke situasi ini hanya karena mematuhi perintah Alloh. Maka ketika beliau mewakilkan perkara ini kepada Alloh, maka Alloh Azza wa Jalla segera memberikan pemecahan masalahnya dan dengan demikian Musa menjadi lebih matang.

Lanjutkan membaca

Ketika CINCIN Dibiayai Negara

Ketua DPR: Cincin Emas Anggota DPR Rutin Tiap Periode.

kompleks-mpr-dpr

Sungguh miris melihat tingkah anggota dewan (katanya) terhormat itu. Mereka baru-baru ini diberitakan meminta agar diberi cinderamata menjelang masa baktinya, berupa CINCIN berlapis emas 24 karat seberat 10 gram. Konon total nilainya mencapai 1,9 Milyar. Bayangpun!

Ah, dimana kepekaan anggota DPR itu? Dimana letak malu mereka? Dimana rasa empati mereka? Di sisi lain, jangankan untuk membeli perhiasan, untuk makan buat esok hari saja masih banyak rakyat yang bingung. Sungguh terlalu! Katanya, pemberian cinderamata ini sudah dilakukan secara turun temurun dari dulu. Sudah tradisi. Lantas, bilamana tradisi itu buruk dan mubazir, apa mesti diikuti juga? Mbok yao, tradisi-tradisi yang buruk itu dihilangkan atau diganti dengan sesuatu yang lebih bijak/baik.

Lanjutkan membaca

Harga Sebuah Kesabaran

Ummu Salamah berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Alloh, ‘innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kita ini milik Alloh dan kepadaNyalah kita akan kembali). Ya Alloh berikanlah pahala kepadaku atas musibah ini, dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya”, kecuali Alloh akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”.

Maka ketika Abu Salamah wafat, aku bergumam, Lanjutkan membaca

Teruntuk Jantung Hatiku, Sang Pelipur Hati

Masih ingat postingan saya berjudul ‘Sepucuk Surat untuk Ibu’. Maka ini adalah sekuel-nya.

Sebuah surat yang ditulis oleh seorang ibu kepada anaknya, yang mudah-mudahan bisa menjadi ittiba’ dan pelajaran bagi kita semua. Risalah (surat) yang ditulis oleh seorang ibu ketika ia melihat anaknya tidak lagi melakukan kewajibannya sebagai seorang anak. Surat yang ditulis dari hati yang telah lupa. Surat yang ditulis dengan airmata. Surat yang ditulis dengan harapan belas kasihan seorang anak atas berikan kepada ibunya. Surat yang ditulis oleh seorang manusia yang telah mengabdi bertahun-tahun kepada anaknya tersebut. Yang ditulis oleh seorang pelayan yang telah berbakti pada seseorang yang sekarang dengannya. Anaknya tersebut, sekarang ia tidak mau dan belum mengerti akan hakikat berbakti. Mari kita baca isi surat tersebut.

Catatan:

Surat ini cukup panjang. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik. Bacalah dengan Asma Rabbmu yang Telah Mencipta: Surat Untuk Jantung Hatiku.

Lanjutkan membaca

Siapa yang kau cintai?

Siapa yang kau cintai?

Cinta. Ya, lagi-lagi soal cinta. Sepertinya tak kan ada habisnya bila membahas soal ini.

Kok jadi bahas ginian sih? Asyik kan. Sebenarnya ini bermula ketika saya melihat hasil pertandingan semifinal liga champions pekan ini. Saya akui, saya senang sepakbola dengan segala intrik maupun pernak-perniknya. Entah sejak kapan. Kemungkinan pada masa-masa SMP. Saat itu lagi booming-nya Liga Italia. Apalagi kemudian disiarkan secara live di tv. Liga Inggris belum setenar saat ini. Apatah lagi Liga Indonesia. Yang saya tahu hanya kerusuhannya (barangkali). Tapi denger-denger, timnas Indonesia akan bertanding lawan MU. Bukan main.

Sekarang sudah tidak begitu ‘maniak’ lagi. Tapi tetap senang dengan sepakbola. Mengikuti perkembangannya sedikit-sedikit. Nonton sesekali. Maen sesekali juga. Hayo, siapa yang mo ngajak maen futsal? Kalo tidak bisa menonton ya sudahlah, tak apa. Toh bisa melihat di berita olahraga maupun highlight. Apalagi sekarang jamannya internet. Ada konten yang namanya rss feed. :)

Kok malah jadi mbahas bola sih? Intermezzo saja. Ngomongin soal bola, saya jadi ingat perkataan seorang Ustadz dalam pengajian menanti buka puasa di masjid kampus UGM tahun lalu. Emang Ustadznya ngomongin bola ya? Gak lah. Cuman ada nasehat dari beliau. Ada hubungannya dengan bola dan cinta. Jadi, Ustadznya ngomong begini kawan,

Lanjutkan membaca

Merapi pun Bertasbih!

suatu pagi itu

kuputuskan untuk keluar rumah

sekedar kutunai janji dengan seorang sahabat

lalu kupacu kuda besi tuaku

dalam perjalanan

aku melihat lukisan alam yang menakjubkan

Lanjutkan membaca