RSS

Harga Sebuah Kesabaran

12 Mei

Ummu Salamah berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Alloh, ‘innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kita ini milik Alloh dan kepadaNyalah kita akan kembali). Ya Alloh berikanlah pahala kepadaku atas musibah ini, dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya”, kecuali Alloh akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”.

Maka ketika Abu Salamah wafat, aku bergumam, “Siapa muslimin yang lebih baik dari Abu Salamah-sebuah keluarga yang pertama kali berhijrah kepada Rasulullah?” Tetapi, aku lalu mengucapkan do’a tersebut. Dan Alloh ‘Azza wa Jalla pun menggantikannya dengan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. [HR. Muslim al-Jana’iz, VI/220]

Ya, sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salamah kemudian dinikahi oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.

* * *

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah mengenai jasadnya, hartanya, dan anaknya sehingga ia menghadap Alloh tanpa membawa dosa.” [HR. Ahmad dalam Musnad II/287, At-Tirmidziy dalam Az-Zuhd VII/80]

Sejenak kita terbang ke sudut lain di kota Madinah. Kita belajar dari sebuah kisah, bahwasanya hubungan antara kita dengan jasad diri, harta, maupun anak bukanlah hubungan saling memiliki. Kesemuanya itu Alloh pinjamkan untuk kita. Mari kita simak kisah dari Ummu Sulaim berikut ini, salah seorang wanita yang dijanjikan surga.

Lengkapnya, Ummu Sulaim binti Milhan nama wanita itu. Ia yang dinikahi Abu Thalhah Al-Anshari dengan mahar keislaman calon suaminya. Kisah agung pernikahan suci mereka berlanjut hingga saat mereka sudah dikaruniai putra. Para penulis hadits mengabadikan kisah sakitnya putra semata mayang dari kedua pasangan mulia ini. Ya, kisah ini memberikan hikmah yang dalam dan pelajaran yang tinggi kepada siapapun yang mencari teladan.

Suatu hari, putra Abu Thalhah dan Ummu Sulaim sakit keras. Semakin hari semakin parah saja tampaknya, sedangkan Abu Thalhah tetap harus menjalankan usaha perniagaannya. Alloh berkehendak mengambil kembali anak kecil itu dari kehidupan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim ketika sang ayah tak ada di rumah.

Ummu sulaim berkata kepada keluarganya, “Janganlah kalian memberitahukan kepada Abu Thalhah akan kematian putra kesayangannya. Biar aku sendiri yang akan menyampaikannya.” Jasad sang putra pun ditempatkan di kamarnya semula. Terbaring tenang. Kemudian Ummu Sulaim mengenakan busananya yang paling bagus. Dia merias dirinya secantik mungkin dan memasak makanan istimewa kesukaan Abu Thalhah. Ketika pulang, Abu Thalhah segera menanyakan bagaimana keadaan sang putra yang ditinggalkan dalam kondisi sakit.

Ummu Sulaim menjawab, “Dia sekarang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.” Jawaban ini sangat melegakan bagi Abu Thalhah, padahal tentu yang dimaksud Ummu Sulaim ‘lebih tenang daripada sebelumnya’ berbeda’dari pemahaman Abu Thalhah.

Karena merasa tenang, maka Abu Thalhah menyantap makanan yang telah dihidangkan oleh istrinya. Setelah itu sang istri memperlakukannya dengan sangat mesra layaknya pengantin baru. Lalu ‘shadaqah’ pun selesai ditunaikan Abu Thalhah, hingga ia merasa tenang dan tenteram. Malam ini seolah menjadi malam pengantin mereka yang kedua.

Luar biasa wanita ini. Ia pun sebenarnya dirundung duka begitu dalam, tetapi ia ingin agar beban kesedihan dan nestapa yang akan didengar suaminya agak terkurangi dengan sambutannya malam ini.

“Wahai Abu Thalhah”, kata Ummu Sulaim kemudian. “Bagaimana pendapatmu, sekiranya ada seorang yang menitipkan sesuatu kepada orang lain untuk suatu masa tertentu. Kemudian ketika si pemilik itu hendak mengambil barangnya kembali, patutkah jika orang yang dititipi itu keberatan?”

“Sebenarnya tidak boleh begitu”, kata Abu Thalhah. “Ia wajib untuk segera mengembalikan barang itu kepada pemiliknya dengan penuh keikhlasan. Bukankah barang itu memang bukan miliknya?”

Ummu Sulaim kemudian mengatakan, “Kalau begitu, ketahuilah bahwa putra kita adalah milik Alloh yang dititipkan kepada kita. Ikhlaskanlah putramu, karena kini Sang Pemilik telah mengambil barang titipannya.”

Abu Thalhah marah dan dongkol sekali. Bagaimana bisa tadi dia makan dengan sangat lahap kemudian bermesraan bagaikan pengantin baru padahal putra terkasihnya terbujur kaku di kamar sebelah. “Mengapa baru sekarang kau katakan? Mengapa sejak tadi kau diam saja? Sampai-sampai keadaan kita berdua sudah seperti ini.”

Paginya dengan menahan kesedihan, keharuan, dan kejengkelan pada istrinya, Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia laporkan apa yang telah dilakukan Ummu Sulaim kepadanya. Sungguh agung. Rasul mulia itu justru bersabda, “Pengantinankah kalian berdua semalam?”

Abu Thalhah tertunduk malu, “Benar, Ya Rasulullah.”

“Mudah-mudahan Alloh memberikan barakahNya untuk kalian berdua pada malam yang telah kalian lalui bersama.”

Benarlah yang beliau sabdakan. Tak lama kemudian Ummu Sulaim mengandung dan ketika lahir, sang bayi diberi nama ‘Abdullah. Perawi hadits ini –yang dikutip Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud– berkomentar, “Aku telah mendapatkan informasi bahwa ‘Abdullah memiliki sembilan orang putra yang kesemuanya adalah Qari’ penghafal Al-Qur’an. Inilah barakah malam itu. Inilah yang dilahirkan oleh seorang wanita mukminah lagi shalihah.”

“Tidaklah Alloh ‘Azza wa Jalla

menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba,

lalu DIA mencabutnya dan sang hamba pun bersabar atasnya,

kecuali Alloh ‘Azza wa Jalla akan menggantikannya dengan yang lebih baik.”

[Perkataan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz]

Referensi:

  • Tazkiyatun Nafs; Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam al-Ghazali

  • Jalan Cinta Para Pejuang; Salim A. Fillah

 
26 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2009 in nasehat

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

26 responses to “Harga Sebuah Kesabaran

  1. radesya

    13 Mei 2009 at 06:17

    Tabah, sabar, berserah diri pada Alloh atas masalah yang menimpa kita mungkin jalan yang terbaik, tapi kita juga harus berdoa dan berusaha menyelesaikan masalah kita..

    Kisah yang bagus kak..

    azzam:
    banyak kisah baik dalam Al-Qur’an dan hadits yg penuh hikmah dan bisa kita jadikan ibrah.

    Menurut saya, kisah-kisah semisal Musa melawan Fir’aun, kisah Ash-habul Kahfi, maupun kisah lainnya lainnya kalo ditulis dg bahasa yg menarik, tidak kalah dg kisah Harry Potter, Twilight, LOTR, dll.🙂

     
    • wanti annurria

      21 Mei 2009 at 21:47

      aqu selalu menganggap kisah2 di Al-Qur’an adalah kisah paling menarik sepanjang zaman walo berulang kali dibaca selalu terasa mengagumkan… dan tdk pernah terasa m’bosankan,, karena kisah2 itu benar adanya..

      kalau Harry Potter, Twilight, LOTR, dan ayat2 cinta.. cukup sekali saja,,🙂

      Subhanallah Ummu sulaim seorang wanita perkasa,,

      azzam:
      novel AAC menjadikan obat rindu akan sosok lelaki shalih di negeri ini. ^_^

       
  2. sunarnosahlan

    13 Mei 2009 at 12:57

    teringatkan kembali akan kisah ini

     
  3. fachri

    13 Mei 2009 at 16:23

    indah sekali cerita-nya..

     
  4. fachri

    13 Mei 2009 at 16:29

    pelajaran yg luar biasa, semoga bisa direalisasi di kehidupan zaman sekarang..

     
  5. achoey

    14 Mei 2009 at 12:14

    Subhanallah

    Mencerahkan sobat

     
  6. .lala

    14 Mei 2009 at 15:16

    mmh.. nuhun.

     
  7. omiyan

    14 Mei 2009 at 16:47

    Kisah diatas jika direalisasikan di kehidupan sekarang maka manusia sekarang lebih berbicara pada realita sehingga terkadang kepercayaan terhadap Tuhan kalah dengan kepercayaan akan realita yang ada…terutama amsalah kesabaran

     
  8. cenya95

    15 Mei 2009 at 14:00

    yah… harus sabar…

    salam superhangat

    azzam:
    salam superhero.:mrgreen:

     
  9. indra1082

    20 Mei 2009 at 09:15

    Sabar kunci keberhasilan

     
  10. diajeng

    20 Mei 2009 at 16:15

    kalo kita banyak membaca buku2..memang kisah2 tentang “belajar bersabar” itu banyak dan dahsyat sekali ya kak🙂

     
  11. diajeng

    20 Mei 2009 at 16:19

    dan hari ini…aku kembali mengambil hikmah kesabaran di blog kakak…makasih ya kak🙂

    azzam:
    sama-sama adek.

    *berasa kyk pembina pramuka… Sabarrr🙂

     
  12. Bymas

    23 Mei 2009 at 18:31

    asyik sekali ceritanya mas

    salam kenal ya

    azzam:
    salam kenal kembali🙂

     
  13. yanti/ mama Aini

    24 Mei 2009 at 17:38

    Semoga kita semua cukup punya sabar… Amin

     
  14. shofiyah

    25 Mei 2009 at 06:37

    Iyah aku juga sukaaaaaaa sama cerita ini…,

    *mencoba belajar jadi ummu sulaim*

    yah semua didunia ini hanya titipan DariNya…..

    Afwan pak awal pertemanan kita sudah terjadi keterasingan….

    *Jiahh ngomong opo toh ana ini??*

    azzam:
    ngomongin ghuroba.

     
    • shofiyah

      28 Mei 2009 at 12:53

      he he nyengir

      *main ga nyambung ga nyambungan*

      SEMANGAT!!!!

      salam buat kakak ipar…^_^

      *sok teunya kumat*

      azzam:
      kakak ipar sopo neh ki..?

       
      • shofiyah

        10 Juni 2009 at 09:29

        (^_^)V

         
  15. wi3nd

    26 Mei 2009 at 09:49

    subhanalloh..
    be9itu tenan9nya ummu men9hadapi ituh semua,sebuah suri taulan yan9 patut dicontoh..
    tin9kat kesabarannya suda san9at tin99i yaa??

     
  16. ubadbmarko

    28 Mei 2009 at 08:44

    mas Jam…aku rindu rumahku.., aku pulang neeh….

    azzam:
    welcome back pak. nantikan kehadiran sy di rumahnya ya…:mrgreen:

     
  17. Nisa

    28 Mei 2009 at 19:40

    subhanallah,,

    semoga kita bisa mengamalkannya,,

    mencontoh kesabaran2 beliau,,

     
  18. geulist133

    3 Juni 2009 at 18:34

    http://geulist133.wordpress.com/2009/06/03/my-1st-award-bertuah-award/

    Teh dapet award

    azzam:
    waduh, sy bkn teteh…😥

    btw, itu award tuk sy..? Thank u.
    *meluncur ke TKP*

     
  19. elfaruq

    4 Juni 2009 at 08:05

    🙂 bagus

     
  20. phiy

    4 Juni 2009 at 23:13

    subhanallah, mudah2an aku bisa seperti Ummu Salamah, meski jalanku ke arah sana masih panjang dan bertahap :]

    azzam:
    insya Alloh. Keep trying.

     
  21. newbiedika

    5 Juni 2009 at 10:06

    Yang penting saBar . .
    Salam paling hangat dr dika

    azzam:
    menghangatkan sobat🙂

     
  22. el-Ghafri

    8 Juni 2009 at 22:26

    penghayatan yg dlm tidak akan melahirkan seorng yg cm tw sebuah kisah,karena menyimakma. melainkan akan menjdikan kpribadiaanya menjadi lebih baik,seraya mengaplikannya pd realita kehidupan, sungguh beruntung seseorang yg brkarya dalam memberikan sinergi kebaikan pd orang lain…trues berkarya bro…aku salut dengan karyamu….

    azzam:
    ok deh, bro.🙂

     
  23. wi3nd

    6 Agustus 2009 at 11:16

    azzam..
    sepertina aku suda pernah membacanya,tapi dimana yaa🙄
    apakah dejavu??

    tapi yaa.. benar ajdikan sabar dan ikhlas seba9ai penolon9 kita yaaa🙂

    azzam:
    kisah ini khan dah mahsyur. Jadi wajar kalo berasa dejavu. Barangkali wiend pernah baca buku referensi tulisan di atas.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: