RSS

Ketika CINCIN Dibiayai Negara

10 Jun

Ketua DPR: Cincin Emas Anggota DPR Rutin Tiap Periode.

kompleks-mpr-dpr

Sungguh miris melihat tingkah anggota dewan (katanya) terhormat itu. Mereka baru-baru ini diberitakan meminta agar diberi cinderamata menjelang masa baktinya, berupa CINCIN berlapis emas 24 karat seberat 10 gram. Konon total nilainya mencapai 1,9 Milyar. Bayangpun!

Ah, dimana kepekaan anggota DPR itu? Dimana letak malu mereka? Dimana rasa empati mereka? Di sisi lain, jangankan untuk membeli perhiasan, untuk makan buat esok hari saja masih banyak rakyat yang bingung. Sungguh terlalu! Katanya, pemberian cinderamata ini sudah dilakukan secara turun temurun dari dulu. Sudah tradisi. Lantas, bilamana tradisi itu buruk dan mubazir, apa mesti diikuti juga? Mbok yao, tradisi-tradisi yang buruk itu dihilangkan atau diganti dengan sesuatu yang lebih bijak/baik.

Terkait dengan CINCIN berlapis emas ini, Islam telah melarang emas dan sutera dikenakan oleh laki-laki. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Daud, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambil sutera kemudian meletakkannya di tangan kanannya dan mengambil emas kemudian meletakkannya di tangan kirinya kemudian bersabda, “Sesungguhnya dua barang ini haram bagi laki-laki dari umatku.”

Ketika membaca salah satu komentar dari status facebooksuara andaMetro TV, ada yang berpendapat, “Seharusnya cinderamata buatt mereka jangan cincin tapi CERMIN, supaya mereka semua bisa berkaca, mereka telah berbuat apa untuk rakyat selama masa jabatan kemarin??!” Menarik. Bisa jadi mereka memang jarang bercermin. Tapi jangan sampai, setelah dikasih cermin kemudian malah melakukan tindakan seperti yang digambarkan dalam peribahasa, “Buruk rupa cermin dibelah.” Yang berarti, marah kepada orang yang menunjukkan kesalahan kita sendiri.

Terkadang, sikap kritis itu diperlukan. Dalam budaya Jawa, dikenal budaya ‘ewuh pakewuh’ a.k.a sungkan. Dalam batas normal, budaya ewuh pakewuh ini akan meningkatkan kualitas hubungan seseorang dan semakin meningkatkan tali silaturahmi dalam kumpulan atau organisasi. Namun, porsi yang berlebihan dari ewuh pakewuh ini terhadap tegaknya suatu kebenaran dan keadilan justru akan menghambat bergulirnya roda organisasi dan pencapaian tujuan yang telah dicapai bersama.

Di lain pihak, seseorang yang sudah terlalu banyak menerima pemberian (kebaikan) orang lain, akan sulit untuk menegur si pemberi tersebut ketika yang bersangkutan melakukan kesalahan. Mungkin juga dapat terjadi seseorang sulit memberi masukan pada orang lain (mungkin atasannya sekalipun) yang sudah sangat senior dengan segudang kompetensi yang dimiliki. Ketika ‘ewuh pukewuh’ dirasa sangat berlebihan, maka akan memicu seseorang untuk “Yes Man” atau Asal Bapak Senang (ABS).

Sedangkan Rasulullah menerjemahkan makna kesetiaan, persaudaraan, kebersamaan diantara kaum beriman dalam sabdanya, “Mukmin adalah cermin bagi saudaranya.”

Cermin. Banyak sifat khas dari cermin.

  1. Cermin sifatnya halus, tidak kasar dalam menyampaikan informasi apapun dari orang yang ada di hadapannya. Artinya, seorang mukmin harus lemah lembut, halus, tidak kasar dalam menyampaikan nasihat atau teguran kepada saudaranya.
  2. Cermin juga pandai menyimpan rahasia. Tidak menyampaikan informasi apapun kepada orang lain kecuali orang yang ada di hadapannya. Artinya seorang mukmin juga tidak menceritakan aib saudaranya kepada orang lain.
  3. Selain itu cermin tidak pilih kasih. Artinya, cermin tidak peduli siapapun yang ada di hadapannya, ia tetap akan menyampaikan informasi apa adanya kepada siapapun. Berarti seorang mukmin tidak boleh pilih kasih dalam memberi nasihat. Tidak pandang status sosial, keturunan, pangkat, dan semacamnya.

Sungguh miris, bilamana usulan cinderamata CINCIN ini disetujui nantinya. Bukankah wakil rakyat seharusnya merakyat? Padahal saat pemilihan anggota legislatif, yang mereka gadang-gadang dalam kampanye mereka adalah kata RAKYAT. Rasanya gak afdhal bila para caleg kelewat menyebu kata ini dalam setiap kampanyenya. Rasa takut menyelimuti jika mereka disebut tidak pro rakyat.

Padahal, yang diinginkan oleh rakyat tidaklah neko-neko. Rakyat tidak membutuhkan belas kasihan dari pemimpin maupun para wakil rakyat di senayan. Yang rakyat inginkan adalah para pemimpin maupun wakil rakyat menjalankan tugas dengan amanah, baik, dan benar. Sehingga mereka tidak merasa sia-sia menjatuhkan dukungan.

Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya. Rakyat hanya dijadikan eksploitasi. Mendekati wong cilik saat dibutuhkan. Lalu mencampakkannya saat kepentingan mereka telah tercapai. Jangankan peduli nasib rakyat, mendengarkannya pun tak sudi. Tutup telinga dan tutup mata. Persis pepatah, habis manis sepah dibuang.

Semoga mereka sadar. Semoga saja. Tapi kapan sadarnya?🙄

Referensi:

  • Nasihat Ruhani, Muhammad Nursani
  • Setengah Isi Setengah Kosong, Parlindungan Marpaung
  • Sabili edisi Juni 2009

 
21 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Juni 2009 in berita

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

21 responses to “Ketika CINCIN Dibiayai Negara

  1. shofiyah

    10 Juni 2009 at 09:35

    Wahhh…..,

    *terpana*

    barakallahufik….

     
  2. shofiyah

    10 Juni 2009 at 09:36

    Wahhh…..,

    *terpana*

    barakallahufik….

    umm…

    bdw, solusinya apa pak?

     
  3. shofiyah

    10 Juni 2009 at 09:38

    Loh kok dobel koment?

     
  4. geulist133

    10 Juni 2009 at 10:21

    @ Atas: Triple atuh itu mah.

    iya Cincin Emas, bukan cincinnya sebenernya tapi emasnya! kalo cuma cincin dari tali karet biasa sih, silahkan lah, paling ge dua rebu perak, tapi ini emas dua juta lah.
    padahal DPR kan gajinya udah gede, Mobil dikasih (mobil dinas katanya), Rumah dikasih (rumah dinas katanya), Baju diukurin tiap bulan, emang masih gak cukup buat patungan beli Cinderamata sendiri.

    anak SMA pun bikin buku tahunan sebagai kenang kenangan patungan sendiri sendiri

    perlukan mereka selama masa jabatannya ngumpulin Cepe cepe buat Cinderamata emas saat nanti dia pensiun?

    solusiku Kumpulin aja Cepe Seribu ding:mrgreen: tiap hari, nanti lima tahun (udah pensiun) dibeliin cincin dah tuh.

     
  5. Saya b-ta

    10 Juni 2009 at 13:06

    duit 1,9 milyar kenapa gak dialihkan untuk biaya relokasi warga porong korban lumpur lapindo…?? ato untuk biaya relokasi korban penggusuran rumah susun di wonokromo…. kok malah untuk menggendutkan perut wakil rakyat yang udah gendut??

     
  6. wahyu kresna

    11 Juni 2009 at 16:04

    🙄 hmm., yah kurang tau juga sih. Soalnya belum tau duduk perkaranya seperti apa… jadi belum bisa berkomentar:mrgreen:

     
  7. deeedeee

    12 Juni 2009 at 08:38

    widih,,, dpt cincin ?! saya baru tau ituh…

    ck,,ck,,ck,, sayang bgt kalo uangnya cuman buat beli cincin… mending buat meningkatkan taraf ksejahteraan rakyat, bukan meningkatkan harta kekayaan para dewan di gedung MPR-DPR😦

    hm,, dikasih cermin boleh juga tuh,, tp semoga bukan mereka saja yg bercermin, kita juga harus ikutan bercermin, apakah kita sudah lebih baik dari mereka..?!

     
  8. indra1082

    12 Juni 2009 at 13:32

    Anggota DPR tidak pada ngaca

     
  9. rouftracal

    12 Juni 2009 at 18:36

    Subhanallah, seandainya itu terjadi…
    Semoga saja diberi kemuhan untuk mencari jalan yang lebih bijak.
    Salam dariku.

     
  10. guskar

    13 Juni 2009 at 08:30

    mereka kini sedang mematut2 ukuran cincin di jari manisnya..sementara rakyat mematut2 diri di cermin kemiskinan..
    mestinya mereka bernai berkata : jangan berupa cincin, cukup piagam penghargaan
    *itupun kalo mereka berjasa bagi negeri ini*

     
  11. syelviapoe3

    13 Juni 2009 at 10:02

    Sabar, zam…

    Lagu-lagunya biaya pembuatan Cincinnya bakal dikurangi, deh..
    secara sudah dikupas habis2an sama TVone..he..he..

     
  12. thepenks

    13 Juni 2009 at 20:06

    pada gile tuh semua orang… apa g sebaiknya dana sebanyak itu untuk rakyat… masih banyak warga di negara ini yang masih membutuhkan bantuan dari pemerintah.. yang mereka pikirkan hanya uang saja..

     
  13. yanti/ mama Aini

    15 Juni 2009 at 16:51

    Saya sakit hati… betul-betul nambah sakit hati .. (Ya Allah ampuni saya) ketika mendengar komentar mereka tentang..
    “Ah.. saya gak perlu kok cincin itu”
    “Memang sih.. setiap periode, kita dapat (ya kan?.. dia bertanya pada sejawatnya yang ada disebelahnya)”
    “Saya malah lupa yang periode kemarin saya taruh mana ya??”

    Rasanya kok… hiiiiihhhh

    Semoga cepet bertaubat ya…

    (PS : PKS mengklaim bahwa untuk periode ini mereka menolak cincin emas… begitu katanya… )

     
    • Kakanda

      29 Agustus 2009 at 09:30

      Benarkah ?
      Bagaimana periode sebelumnya ?

      Tapi memang yang menolak, biasanya tidak diberitakan.

       
    • Eve

      7 Januari 2015 at 20:50

      I can’t believe you’re not playing with mea-th-t was so helpful.

       
  14. ateng

    19 Juni 2009 at 13:30

    Cincin nya buat modal kawin lagi …xixixi…

    Kang Ateng:
    “Gak usah beli cermin…tiap pagi disisirin ajudannya”

     
  15. kawanlama95

    22 Juni 2009 at 23:50

    ya itulah dpr kita. ya gpp seeh , silakan aja . lha kan itu udah jadi haknya jadi mau apa lagi kita

     
  16. Ping balik: Pemilih.com
  17. wi3nd

    7 Juli 2009 at 11:56

    semo9a..
    katanya seeh suda tradisi tuch didewanya.. **heran tradisi kok pake duit rakyat

    jadi ya nda tau dech..
    stuja harusnya CERMIN🙂

     
  18. nh18

    24 Juli 2009 at 17:24

    Argh …
    Kok tak henti-henti …
    Manusia memang tak pernah puas …

    Semoga yang akan datang
    bisa lebih … “wise”

    Salam saya

     
  19. sunarnosahlan

    24 November 2009 at 07:00

    buat anggaran yang langsung menyentuh kepentingan rakyat banyak saja

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: