RSS

Dunia yang Berlari dan Negara yang Tertatih

28 Des

(Kompas, 18 Desember 2010)

Oleh: Shofwan Al Banna Choiruzzad

Dunia yang berubah dengan sangat cepat membuat kehadiran institusi negara yang kokoh menjadi sebuah keharusan. Sayang, di Indonesia yang kita cintai ini, negara justru lebih sering absen di tengah kecamuk masalah. Entah itu soal hukum yang tidak berdaya menghadapi para mafia atau kekerasan yang menjadi harian, negara bersembunyi di balik keengganan untuk “mengintervensi.”

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan bahwa “negara tidak boleh kalah.” Namun, jika dibandingkan dengan kecepatan dunia kita yang (meminjam istilah Giddens) sedang berlari, institusi negara yang kita miliki saat ini sedang tertatih-tatih.

Dunia yang Berlari

Saat teroris menubrukkan pesawat ke World Trade Center di New York, para pengamat menahbiskannya sebagai tanda dimulainya zaman baru. “Peristiwa 11 september adalah peristiwa historis,” ujar John Lewis Gaddis, “mengakhiri era setelah perang dingin yang belum sempat kita namai.” Hegemoni wacana Perang Melawan Terorisme yang dimulai oleh Presiden Bush membuat banyak orang berpikir bahwa dunia “pasca-pasca perang dingin” adalah dunia hitam putih yang identik dengan Perang Melawan Terorisme itu sendiri.

Rupanya, konstruksi hitam-putih yang dibangun oleh Perang Melawan Terorisme tidak cukup untuk menggambarkan warna-warni perubahan yang dengan cepat menyeret dunia yang kita kenal. Hari ini kita menyadari bahwa 11 September hanyalah salah satu gejala.Tahun ini, secara beruntun berbagai kejadian menyentak kita bahwa pergeseran-pergeseran besar sedang terjadi.

Pada tanggal 31 Mei 2010, rombongan kapal kemanusiaan yang mencoba membawa bantuan menembus blokade Israel atas Gaza diserang oleh Pasukan Komando Israel. “Insiden Flotilla” atau “Insiden Mavi Marmara” ini dengan cepat menarik perhatian dunia, yang dengan serta merta mengutuk serangan tersebut. Amerika Serikat pun hanya bisa sedikit berkeberatan saat laporan investigasi dari United Nations Human Rights Commission menyatakan bahwa Israel telah melakukan kekerasan yang tidak proporsional dan tidak dapat diterima.

Desember ini, dunia digemparkan oleh bocoran kabel diplomatik Amerika Serikat yang dibuka kepada publik oleh Wikileaks, situs nonprofit yang dipimpin pengelolaannya oleh Julian Assange. Tidak main-main, jumlah dokumen yang ada di tangan Wikileaks mencapai 250.000, dengan 15.652 di antaranya berklasifikasi rahasia. Tentu saja hal ini menimbulkan gempa bagi politik luar negeri Amerika Serikat dan mempengaruhi hubungannya dengan negara-negara lain. Sebelum kejadian ini, Wikileaks juga pernah membuat Washington kebakaran jenggot saat merilis video pasukannya di Irak membantai belasan orang (termasuk dua wartawan Reuters) dari atas helikopter Apache dengan senang hati.

Empat Dimensi Perubahan

Kedua kejadian ini (dan serangan teroris ke WTC) adalah gejala-gejala dari setidaknya empat pergesaran yang sedang terjadi.

Pergeseran pertama ada pada distribusi kekuatan dalam politik internasional. Dunia unipolar dengan Amerika Serikat di pucuknya agaknya tidak akan bertahan lama lagi. Meskipun kekuatan militernya masih jauh dari tersaingi, Amerika Serikat terbukti tidak dapacinat berjalan sendiri. Dengan Cina, Rusia, Brazil, dan India melaju menjadi kekuatan ekonomi dunia, perimbangan kekuatan dalam politik international berubah sama sekali.

Pergeseran kedua terjadi pada siapa yang memegang kekuasaan atau kedaulatan. Sejak perjanjian Westphalia pada 1648 (dan kemudian mendunia setelah berakhirnya kolonialisme), sistem negara-bangsa menjadi pilar dalam hubungan internasional. Sistem ini meletakkan kedaulatan (sovereignty) pada negara. Kini, kedaulatan, juga monopoli atas alat kekerasan yang merupakan konsekuensi dari kedaulatan tersebut, bocor ke berbagai arah. Hal ini ditandai dengan menguatnya organisasi internasional, perusahaan multinasional, organisasi masyarakat sipil, juga kelompok teroris atau individu seperti Julian Assange. Di sisi lain, kedaulatan negara yang terkikis juga membuat kekerasan terproliferasi ke masyarakat yang digerus oleh globalisasi, yang uniknya membuat identitas primordial semakin menguat dan menjadi basis bagi kekerasan tersebut.

Pergeseran ketiga terjadi pada jenis kekuatan. Jika dahulu kekuatan “keras” (hard power) seperti tekanan militer atau embargo adalah kekuatan yang dapat memaksa aktor lain tunduk, kini “hard power” saja tidak cukup. Aksi unilateral yang dilancarkan oleh Bush di Afghanistan dan Irak justru menjadi bumerang bagi pengaruhnya di dunia internasional. Menyadari hal ini, pemerintahan AS di bawah Obama mengadopsi konsep “smart power” yang menggabungkan “hard power” dengan “soft power.”

Pergeseran keempat adalah menguatnya pengaruh dunia maya. Jika dahulu perubahan-perubahan hanya bisa diinisiasi melalui dunia material (yang dibatasi oleh batasan geografis, ruang, dan waktu), kini dunia maya bisa menjadi awal dari gerakan sosial yang berpengaruh besar. Kesuksesan kampanye Obama atau gerakan Cicak melawan Buaya di Indonesia hanya salah satu contohnya.

Memperkuat Negara

Keempat perubahan itu menyapu dunia, bahkan sering membuat adidaya seperti AS terpaksa harus beradaptasi jika ingin bertahan. Tentu saja hal ini juga berlaku bagi Indonesia. Jika tidak segera beradaptasi, kita akan tertelan oleh perubahan. Negara yang absen akan membawa bangsa pada kebingungan, karena perubahan cepat ini membawa serta kebaikan dan keburukan sekaligus. Kunci untuk memanfaatkan sisi positifnya secara maksimal (seperti menguatnya masyarakat sipil dan partisipasi publik dengan bantuan media sosial) dan memitigasi dampak negatifnya (seperti kekerasan oleh kelompok masyarakat atau merajalelanya kejahatan terorganisir) adalah peran negara.

Namun, kita akan terjatuh lebih dalam jika negara justru memilih sebaliknya: memaksimalkan dampak negatif dengan absen dalam penegakan hukum dan malah bertindak berlebihan untuk menekan menguatnya partisipasi dan kontrol publik.

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Desember 2010 in nasehat

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

7 responses to “Dunia yang Berlari dan Negara yang Tertatih

  1. achoey el haris

    29 Desember 2010 at 11:22

    Negara harus kuat dan berwibawa
    Serta tak serta merta berpersepsi sama dengan negara2 barat
    Bijak dalam mengarasi berbagai permasalahan
    Tegas dengan tetap dalam koridor hukum yg benar

     
  2. Easy Speak

    30 Desember 2010 at 18:28

    ENGLISH TUTORS URGENTLY NEEDED!!!

    A Fast Growing National English Language Consultant is hunting for :

    => ENGLISH TUTORS Batam – Balikpapan – Samarinda – Makassar – Pekanbaru – Medan

    Send you resume to : easyspeak.hunting@gmail.com as soon as possible.

    Visit http://www.easyspeak.co.id for further information.

     
  3. hanyanulis

    30 Desember 2010 at 22:00

    judulnya filosofis ya, isinya juga megang banget, penuh makna

     
  4. teguhsasmitosdp1

    17 Januari 2011 at 23:26

    negara akan maju jika seluruh komponen saling mendukung, bukan hanya sekedar kritik tanpa pemberian solusi. Sekarang ini sulit membedakan doktor dengan tukang becak, soalnya kalau komentar tentang kekurangan pemerintahan nadanya sama, emosinya sama, masalahnya sama, yang diomongin sama, bedanya cuma yang satu pernah kuliah yang satu tidak, yang satu pakai dasi yang satu pakai celana kolor.

     
  5. SanG BaYAnG

    20 Januari 2011 at 12:58

    perubahan poin empat ini menarik sekali apalagi setelah mendengar bahwa hutang indonesia cuma senilai jejaring facebook.
    Andai negara menfasilatasi dan memajukan internet untuk mengejar ketertinggalan kira-kira apa ya yang terjadi..???
    Salam..

     
  6. KIA

    10 September 2014 at 22:07

    Ok

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: