RSS

Siapa yang kau cintai?

01 Mei

Siapa yang kau cintai?

Cinta. Ya, lagi-lagi soal cinta. Sepertinya tak kan ada habisnya bila membahas soal ini.

Kok jadi bahas ginian sih? Asyik kan. Sebenarnya ini bermula ketika saya melihat hasil pertandingan semifinal liga champions pekan ini. Saya akui, saya senang sepakbola dengan segala intrik maupun pernak-perniknya. Entah sejak kapan. Kemungkinan pada masa-masa SMP. Saat itu lagi booming-nya Liga Italia. Apalagi kemudian disiarkan secara live di tv. Liga Inggris belum setenar saat ini. Apatah lagi Liga Indonesia. Yang saya tahu hanya kerusuhannya (barangkali). Tapi denger-denger, timnas Indonesia akan bertanding lawan MU. Bukan main.

Sekarang sudah tidak begitu ‘maniak’ lagi. Tapi tetap senang dengan sepakbola. Mengikuti perkembangannya sedikit-sedikit. Nonton sesekali. Maen sesekali juga. Hayo, siapa yang mo ngajak maen futsal? Kalo tidak bisa menonton ya sudahlah, tak apa. Toh bisa melihat di berita olahraga maupun highlight. Apalagi sekarang jamannya internet. Ada konten yang namanya rss feed.🙂

Kok malah jadi mbahas bola sih? Intermezzo saja. Ngomongin soal bola, saya jadi ingat perkataan seorang Ustadz dalam pengajian menanti buka puasa di masjid kampus UGM tahun lalu. Emang Ustadznya ngomongin bola ya? Gak lah. Cuman ada nasehat dari beliau. Ada hubungannya dengan bola dan cinta. Jadi, Ustadznya ngomong begini kawan,

“Sesungguhnya nanti di akhirat, kita akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang kita cintai.”

Contoh niy, ada orang yang gemar menonton sepakbola. Cinta mati dah pokoknya. Sampai-sampai di mobilnya ada tulisan salah seorang pemain bola ternama (kelas dunia) yang digemarinya. Sebut saja si Fulan, sang tendangan pisang. Maka nanti di akhirat kelak, mungkin saja dia bisa berkumpul dengan si Fulan ‘tendangan pisang’, pemain bola idamannya tersebut. Wallahu a’lam, bisa berkumpul di neraka ataupun di surga.

Demikian pula bila kita cinta kepada Rasulullah yang menjadi panutan kita dalam segala hal. Maka insya Alloh di akhirat nanti, semoga kita termasuk orang-orang yang dikumpulkan bersama beliau. Aamiin. Dan jelas di surga tempatnya.

Berarti kita harus hati-hati mengejawantahkan rasa cinta ini. Gak sembarangan. Soalnya ini menentukan domisili kita nantinya di tempat yang abadi, yaitu di akhirat. Tentu surga yang diharap. Pasti!

Lantas, siapakah yang kita cintai? Di era globalisasi ini, kemana kira-kira kekaguman dan decak ketakjuban kita hadapkan di seantero jagad raya yang luas dan parade sejarah yang telah begitu panjang ini?

Tentu saja akan ada yang menjawab, tidak pantas seorang muslim mengambil idola selain Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Subhanallah!

Kalo begitu, seberapa kenal kita dengan beliau? Sudahkah kita benar-benar mencintai Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam dan kita jadikan teladan? Atau jangan-jangan rasa cinta kita hanya sekedar pemanis bibir saja? Hanya tulisan di kertas saat mengisi biodata pada kolom tokoh idola/panutan?

Seorang tokoh panutan itu, menurut penuturan akh Salim A. Fillah dalam bukunya ‘NPSP’, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi.

Pertama, harus jelas bahwa dia adalah tokoh yang memang ada. Kedua, segala pernak-pernik kehidupannya harus lengkap tercatat secara objektif, tanpa bumbu-bumbu palsu dan ‘pemanis buatan’. Ketiga, sisi hidupnya sedapat mungkin sesuai dengan kondisi kita. Keempat, kita pilih yang kehidupannya tanpa cacat, terutama di penghujungnya. Kelima, (ini yang terpenting), dia harus benar-benar bisa dan mungkin untuk dicontoh.

Konkretnya begini nih. Pertama, pasti kita setuju bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah figur sejarah yang kesejarahannya tak terbantahkan. Beliau bukan tokoh fiktif, rekaan, mitos, legenda, ataupun cerita rakyat. Beliau nyata.

Kedua, tak ada satu pun tokoh sejarah yang riwayat hidupnya, tindak-tanduknya, ucapannya, cara hidupnya, dan seluruh pernik kesehariannya tercatat selengkap beliau. Bahkan catatan itu pun dibuat seteliti mungkin, dibersihkan dari praduga, kira-kira dan segala syak wasangka. Dan andai kita pernah membohongi ayam dengan, “Kur…kur…kur!” misalnya, Imam al-Bukhari ataupun Imam Muslim bin Hajjaj akan mencoret nama kita dari daftar orang yang dipercaya periwayatannya tentang beliau.

Ketiga, ada alasan lain yang membuat seseorang tidak bisa tidak harus menjadikannya sebagai uswah dan qudwah. Kehidupan beliau begitu multidimensi, merangkum semua kemuliaan yang harus dimiliki seorang mukmin dalam dalam posisi apapun yang ia duduki. Kaya iya, miskin juga sering. Bangsawan iya, tapi hidupnya menjelata. Administrator iya, orang lapangan juga iya. Orasinya memukau, sifat pendiamnya mempesona. Pemberani sangat, pemalu pun sangat. Menjadi suami yang membina rumahtangga dengan satu istri dan lebih tua, pernah. Dengan beberapa istri yang lebih muda, juga pernah.

Keempat, malu rasanya kalau harus mengganti posisinya sebagai uswah dengan tokoh apa pun yang tak jelas, apalagi yang punya cacat. Sekali lagi, hanya beliau satu-satunya tokoh sejarah yang seluruh sisi perjalanan hidupnya lengkap tercatat, dan sungguh semua itu tanpa cacat!!!

Kelima, bahwa beliau adalah manusia, tentu menjadi alasan tersendiri untuk dicontoh ummatnya yang juga sama-sama manusia. Ummat ini beruntung tidak diperintahkan untuk meneladani ‘manusia setengah dewa’ dalam mitos dan legenda seperti di Yunani, ataupun meniru para ‘titisan dewa’ dalam Ramayana dan Mahabharata. Ummat ini ‘hanya’ diperintahkan untuk mencontoh sesamanya, yaitu seorang manusia lain yang berpredikat ‘hamba Alloh dan RasulNya’.

Kalau ingin lebih banyak mengenal beliau, ya tentu kita harus membaca Sirah Nabawiyah, kisah teladan para pendahulu kita yang mulia dari kalangan para nabi, sahabat, tabi’in, dan para ‘ulama. Apalagi saat ini kurangnya semangat keteladanan. Banyak para pemuda yang mencari-cari keteladanan agar bisa dijadikan contoh. Konon, banyak membaca biografi memang sangat mudah membentuk karakter seseorang.

Kalau semasa SD dulu, kita diajari dalam mata pelajaran agama tentang mukjizat-mukjizat yang dialami oleh para Nabi. Maka saat ini, dengan membaca Sirah Nabawi, maka kita bisa menyelami kehidupan beliau. Bagaimana beliau menjalani masa kecilnya, melalui masa remajanya, hingga kemudian diangkat menjadi seorang Rasul. Bagaimana kepemimpinannya, bagaimana beliau berukhuwah, bagaimana kehidupan rumah tangganya, dan masih banyak lainnya. Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan.

Saat ini memang sulit rasanya untuk mencari tokoh yang bisa dijadikan sebagai anutan. Ada pesan yang bijak, apabila anda tidak menemukan contoh teladan, maka bawalah orang-orang kembali menuju contoh teladan yang hakiki, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Suatu waktu, ‘Umar pernah berujar kepada Rasulullah, “Ya Rasulallah, aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum, “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”

“Ya Rasulallah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai dari apapun di dunia ini.”

“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”, balas Rasulullah.

Nah, siapakah yang kau cintai kawan? Sudahkah kita seperti ‘Umar yang mencintai beliau melebihi apapun di dunia ini? Yang menurut akh Salim dalam JCPP, ternyata cinta bagi ‘Umar adalah kata kerja. Ya kata kerja. Karena ‘Umar begitu mudah menata ulang cintanya dalam sekejap. Dari mencintai Rasulullah seperti mencintai dirinya, dia ubah menjadi melebihi cintanya pada apapun di dunia. Hanya sekejap! Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Meskipun ada yang bilang, cinta itu datang dari hati. Tapi ‘Umar tak berumit-rumit dengan apa yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya.

“Sungguh telah ada bagi kalian, pada diri Rasulillah itu suri teladan yang baik. Bagi orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Alloh, dan hari akhir. Dan dia banyak mengingat Alloh.” [Al-Ahzab: 21]

“Aku melihat seorang laki-laki yang tampan,

berbadan tegap, berwajah cerah, berkepala sedang, tidak besar tidak pula kecil,

berakhlak mulia, berbudi pekerti baik, berbola mata hitam, bulu matanya panjang,

bersuara sedikit serak, putih matanya sangat putih, hitam matanya sangat hitam,

kedua alisnya melengkung dan hampir bertemu,

lehernya panjang, jenggotnya lebat,

jika diam dia diliputi oleh ketenangan,

jika dia berbicara dia dinaungi oleh kewibawaan,

ucapannya manis, tegas, tidak pendek, tidak bertele-tele,

kata-katanya seperti untaian mutiara yang tertata rapi,

dari jauh dialah orang yang paling tampan dan menawan,

dari dekat dialah orang yang paling manis dan baik, berbadan sedang,

mata tidak mencelanya karena kepanjangan dan mata tidak menjelekkannya karena kependekan,

seperti dahan pohon di antara dua pohon yang pendek dan panjang,

paling indah dipandang dari tiga, paling harum baunya.

Dia memiliki teman-teman yang menghormatinya,

jika dia berbicara mereka mendengar ucapannya,

jika dia memerintah mereka berlomba-lomba melaksanakannya,

mereka berbondong-bondong membantu dan melayaninya,

tidak bermuka masam dan tida lemah pendapat.”

[Perkataan Ummu Ma’bad -seorang wanita yang mana Rasulullah dan Abu Bakr pernah singgah minum padanya pada saat hijrah ke Madinah- tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam]

So, siapa yang kau cintai? Ouw…no,no,no,no,no. Jangan saya, jangan saya.

*dilempar do’a en duit 100rb-an*😆

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Mei 2009 in nasehat

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

18 responses to “Siapa yang kau cintai?

  1. email90

    2 Mei 2009 at 20:12

    hhmm. mungkin saja orang yg mereka cintai Rasullullah saw dan yang mereka kagumi (krn satu hal yg memang pantas di apresiasi) adalah seseorang selain Rasullullah saw.. hhm.. cinta dan kagum beda g?

    azzam:
    cinta ama kagum? mmm…beda kali ya. Yg jelas energi cinta itu sangat dahsyat. Energi cinta dpt membuat si takut mjd berani. Cinta dpt membuat yg jauh jd terasa dekat, pengecut mjd ksatria.

    Ttg cinta, layak dibaca bukunya Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Beliau membagi cinta ke dalam 50 istilah.

     
  2. yanti/ mama Aini

    2 Mei 2009 at 21:14

    Sirah Nabiwi. Saya selalu menangis membacanya (heh.. emang cengeng…) membaca halaman demi halamannya.. Tapi tetaap saja ingin membaca lagi

     
  3. doelsoehono

    2 Mei 2009 at 22:10

    Salam .

    yang saya CiNta yang telah menunjukkan jalan kebenaran dan yang telah menjadi panutan alam .

     
  4. Irfan

    3 Mei 2009 at 06:53

    semoga cinta kita di dunia ga melebihi cinta pada Nya dan Rasul Nya…

    tapi rasanya kagum ma orang di dunia juga ga salah kan?

    azzam:
    boleh2 saja kita mengagumi seseorang. Baik karena pemikirannya, tindakannya, atau sebab lainnya yg tdk tercela sy kira. Jd anda kagum ma saya?
    *dijitak*:mrgreen:

     
  5. masnoe®

    3 Mei 2009 at 15:13

    yakin lah artikelnya padet bener nie

    salam kenal tanks dah mampir di kulkasku

     
  6. achoey

    3 Mei 2009 at 20:57

    saya berharap dan kan terus berusaha mencintai Rasulullah. Semoga di akhirat kelak saya bisa bersama dengan beliau. Amin!

     
  7. kawanlama95

    3 Mei 2009 at 23:34

    ya tetulah rasullulah teladan kita

     
  8. bocahbancar

    4 Mei 2009 at 00:41

    Ibu..Ibu..Ibu dan Ayah….

    Kakak, kerabat, dan calon Istri(tapi belum ada) dan semua makhluk yang ada di jagat raya ini..

    Itulah cinta saya……

    Cinta tertinggi kepada Nabi dan Allah SWT…..

     
  9. cenya95

    4 Mei 2009 at 15:23

    Semuanyaaaaa…
    agar tidak ada iri dan dengki
    salam hangat selalu

     
  10. Aribicara

    5 Mei 2009 at 14:43

    Selain semua yang kau sebut..

    Aku ingin menyebut Simboku sebagai orang yang aku sayangi🙂

    Salam

     
  11. omiyan

    5 Mei 2009 at 16:07

    ah saya sendiri masih mencintai duniawi dibanding Beliau Sang rasul dan Allah SWT, semoga aja qalbu ini masih tersisa untuk sebuah nurani kebaikan

     
  12. Rindu

    5 Mei 2009 at 18:45

    Indahnya Cinta🙂

     
  13. wi3nd

    7 Mei 2009 at 13:43

    tadinya men9an99aP nabi muhamad bukan seba9i idoLa,melainkan darah dLm jiwa yan9 melebihi idoLa,ternyata harus diubah ya..?

    maka aku hanya mencintai & merinduKan En9kaU saJa,wahai san9 pemiLik NAFAS ” ALLAH sWT “

     
  14. mioariefiansyah

    10 Mei 2009 at 05:57

    yang aku cintai ya suamiku lho lho =) ya iyakan Insya Allah amin

    kalau mengidolakan seseorang??? siapa ya?? paling cuma kagum aja…

    kalau idola sepanjang zaman?? tentu saja Rosul is the best =)

     
  15. wanti annurria

    14 Mei 2009 at 22:34

    umati… umati.. umati…
    tiga kata terakhir,, yang diucapkan rasulullah saw diakhir hayatnya,,
    selalu bikin… :’) *pantaskah diri ini mencintai sosok semulia itu…

    azzam:
    pantas kok. Insya Alloh.

     
  16. Ritasusanti

    28 Juli 2009 at 22:27

    Assalamualaikum Wr Wb.

    Salam kenal mas Azzam…tulisannya “berisi” sekali…
    terima kasih sudah diingatkan melalui tulisan ini…

    Semakin sadar bahwa rasa cinta yang teragung di dalam hati ini
    memang sepantasnya hanya untuk Beliau….
    Dan yang terpenting adalah pengejewantahan dari rasa cinta itu,
    seperti yang telah dilakukan oleh sahabat Rasulullah,Umar…

     
  17. Maktabah Al Islam

    6 Januari 2010 at 10:39

    Bagi ikhwah sekalian yang membutuhkan buku sirah nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury terbitan pustaka al kautsar bisa melakukan pemesanan melalui

    email: alislam.maktabah@gmail.com
    YM: maktabah_alislam

    Harga: Rp 80,000

    Sinopsis :

    Perjalanan hidup Rasulullah,adalah lautan yang luas membentang dengan kebeningan airnya yang kebiruan. Disana tersimpan pesona alami nan abadi. Tiada mata yang bosan memandang. Tiada hati yang jemu menikmati. Tiada berhenti orang yang menyelami. Karena sosok beliau, adalah pesona sepanjang masa.

    Buku Sirah Nabawiyah ini mencoba menyajikan pesona-pesona itu. Sebagai buku yang berhasil meraih juara 1, dalam lomba karya tulis tentang sirah beliau, yang diprakarsai Rabithah Al-Alam Al-Islamy, tidak terlalu mengherankan, jika ia juga memiliki pesona tersendiri untuk dibaca dan dinikmati.

     
  18. EllyNurhikmah

    22 Desember 2010 at 09:30

    Aku g tw dn9n bgmN aku bs MeNcintai Rosululloh s.a.w. Yg g prnah trlht oran9ny,atau skLpun gmbr parasnya . . Sllny seh?aku kLo cint ma sSorn9 liat muka. , . . Tp Nabi Qt ini lain,QT BS Mencintainya krn keTauLadananya,cintany kpd Alloh s.w.t.
    So. . . Cinta ini sPesiaL tUk Rosululloh s.a.w
    Mudah2an Qt bs brtmU dn9n Beliau di syUrga Alloh s.w.t amin3x. . . . . .

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: