<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kicau Kata</title>
	<atom:link href="http://kicaukata.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kicaukata.wordpress.com</link>
	<description>love conquers all</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Jul 2009 20:15:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='kicaukata.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/f4062c56ea1d64a2117a2d6267da3cdf?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kicau Kata</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Heran ?!</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com/2009/07/20/tak-usah-heran-kalau-kamu-mencintai-allah/</link>
		<comments>http://kicaukata.wordpress.com/2009/07/20/tak-usah-heran-kalau-kamu-mencintai-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 09:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>just azzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[al-Maa'idah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[batin]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[firman]]></category>
		<category><![CDATA[fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[heran]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Qayyim]]></category>
		<category><![CDATA[kenikmatan]]></category>
		<category><![CDATA[lahir]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[takjub]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kicaukata.wordpress.com/2009/07/20/tak-usah-heran-kalau-kamu-mencintai-allah/</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim mengatakan, &#8220;Sebenarnya tidak ada yang menakjubkan dari firman Allah Azza wa Jalla:
&#8220;Dan mereka (orang-orang yang beriman) mencintai-Nya (Allah).&#8221; [Al-Maa'idah: 54]
Akan tetapi yang menakjubkan adalah firman Allah Azza wa Jalla:
&#8220;Dan Allah mencintai mereka (orang-orang beriman).&#8221; [Al-Maa'idah: 54]
Karena manusia itu diciptakan dengan fitrah bahwa dia akan mencintai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Ada seseorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=61&subd=kicaukata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ibnul Qayyim mengatakan, &#8220;Sebenarnya tidak ada yang menakjubkan dari firman Allah Azza wa Jalla:</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em><span style="color:#008000;">&#8220;Dan mereka (orang-orang yang beriman) mencintai-Nya (Allah).&#8221;</span> <span style="color:#000000;">[Al-Maa'idah: 54]</span></em></span></p></blockquote>
<p>Akan tetapi yang menakjubkan adalah firman Allah Azza wa Jalla:</p>
<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em><span style="color:#008000;">&#8220;Dan Allah mencintai mereka (orang-orang beriman).&#8221; </span><span style="color:#000000;">[Al-Maa'idah: 54]</span></em></span></p></blockquote>
<p><span id="more-61"></span>Karena manusia itu diciptakan dengan fitrah bahwa dia akan mencintai siapa saja yang berbuat baik kepadanya. Ada seseorang yang memberikan uang seratus ribu kepadamu, niscaya kamu akan menyukainya. Ada seseorang yang memberikan pakaian kesukaan kepadamu, niscaya kamu pasti akan menyukainya.</p>
<p>Namun, bukankah yang sebenarnya meliputi kita dengan berbagai kenikmatan-baik berupa nikmat lahir maupun batin-adalah Allah? Jadi, tidak heran, kalau kamu mencintai Allah, karena Dia telah banyak berbuat baik kepadamu. Tetapi, yang mengherankan adalah <strong>ketika Allah Azza wa Jalla mencintaimu</strong>.</p>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ah, betapa indahnya bila Allah Ta’ala mencintai kita. Nama kita disebutkannya.  Sebagaimana ummu al-mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha, yang mendapat salam dari Allah Ta’ala dan Jibril. Dalam al-shahihain telah diriwayatkan bahwa Ummul Mukminin, Khadijah adalah wanita terbaik pada zamannya secara mutlak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berkali-kali memberinya kabar gembira dengan surga.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#008000;">“Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata: “Sampaikan kepada Khadijah salam dari Allah dan dariku, dan berilah ia berita gembira dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari emas permata. Di dalamnya tidak ada kegaduhan dan tiada pula keletihan.”</span><span style="color:#000000;"> [HR. Bukhari dan Muslim]</span></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dalam lafal yang lain, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kabar gembira surga bagi Khadijah, dengan mengatakan:</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#008000;">“Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah datang kepada Anda dengan membawa wadah berisi makanan dan minuman. Jika ia mendatangi Anda, sampaikanlah kepadanya salam dari Rabbnya dan berilah kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari emas permata. Di dalamnya tidak ada kegaduhan dan tiada pula keletihan.” </span>[HR. Bukhari]</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dalam hadits yang mulia ini terdapat keutamaan yang agung bagi ummu al-mukminin Khadijah, di mana Allah Ta’ala dan Malaikat Jibril telah menyampaikan salam kepadanya. Allah Ta’ala tidak akan menyampaikan salam kecuali kepada hamba-Nya yang mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Allah juga memberinya kabar gembira dengan sebuah rumah di surga, tiada kegaduhan dan kepenatan di dalamnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Khadijah radhiyallahu ‘anha juga menerima salam dari Allah Ta’ala, tatkala ia berada di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#008000;">“Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pada saat itu Khadijah ada di sisi beliau. Maka Jibril berkata: “Sesungguhnya Allah menyampaikan salam untuk Khadijah.” Maka Khadijah menjawab: “Sesungguhnya Allah adalah As-Salam, salam bagi malaikat Jibril, dan bagi Anda salam, rahmat, dan berkah Allah.”</span> [Fadhail Al-Shahabah karya An-Nasai hlm. 75-76]</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Para ‘ulama menyebutkan bahwa jawaban Khadijah ini menunjukkan kecerdasan akal dan kehalusan budinya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kicaukata.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kicaukata.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kicaukata.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kicaukata.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kicaukata.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kicaukata.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kicaukata.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kicaukata.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kicaukata.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kicaukata.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=61&subd=kicaukata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kicaukata.wordpress.com/2009/07/20/tak-usah-heran-kalau-kamu-mencintai-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96fdcc2a3caabd8f4110d8f78eeeed44?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Masalah yang BESAR karena Kita Punya Alloh Yang MAHA BESAR</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com/2009/06/27/tidak-ada-masalah-yang-besar-karena-kita-punya-alloh-yang-maha-besar/</link>
		<comments>http://kicaukata.wordpress.com/2009/06/27/tidak-ada-masalah-yang-besar-karena-kita-punya-alloh-yang-maha-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 15:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>just azzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Alloh]]></category>
		<category><![CDATA[arung jeram]]></category>
		<category><![CDATA[budak]]></category>
		<category><![CDATA[buruh]]></category>
		<category><![CDATA[cobaan]]></category>
		<category><![CDATA[Fir'aun]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kerdil]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[Mesir]]></category>
		<category><![CDATA[mukmin]]></category>
		<category><![CDATA[Musa]]></category>
		<category><![CDATA[red sea]]></category>
		<category><![CDATA[red sea shore]]></category>
		<category><![CDATA[shore]]></category>
		<category><![CDATA[tawakkal]]></category>
		<category><![CDATA[ujian hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kicaukata.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Have you ever been to the Red Sea shore in your life
Where inspite of everything you can do
There is no way back, there is no way out
There is no other way but through
Dalam hidup ini, selalu ada masalah yang menghadang dan tantangan yang menunggu untuk ditaklukkan. Layaknya kegiatan arung jeram, yang membuat nikmat adalah karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=58&subd=kicaukata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center">Have you ever been to the <span style="color:#ff0000;"><strong>Red Sea</strong></span> shore in your life</p>
<p align="center">Where inspite of everything you can do</p>
<p align="center">There is no way back, there is no way out</p>
<p align="center">There is no other way but through</p>
<p>Dalam hidup ini, selalu ada masalah yang menghadang dan tantangan yang menunggu untuk ditaklukkan. Layaknya kegiatan arung jeram, yang membuat nikmat adalah karena adanya jeram untuk diarungi.</p>
<p>Dikisahkan, karena mematuhi perintah Alloh, Nabi Musa membawa seluruh orang Yahudi pindah keluar dari tanah Mesir. Karena pada masa itu, orang-orang Yahudi menjadi tindasan Fir’aun, sebagai penyedia tenaga buruh (budak) yang gratis bagi Fir’aun. Dalam pelarian inilah, Nabi Musa dihadapkan dengan ujian dari Alloh yang cukup berat.</p>
<p>Ketika rombongan yang besar itu sampai ke laut Merah, terlihat di belakang mereka lasykar Fir’aun yang siap akan menghancurkan mereka, datang mengejar. Maka Nabi Musa dihadapkan dengan jalan buntu. Padahal beliau sampai ke situasi ini hanya karena mematuhi perintah Alloh. Maka ketika beliau mewakilkan perkara ini kepada Alloh, maka Alloh Azza wa Jalla segera memberikan pemecahan masalahnya dan dengan demikian Musa menjadi lebih matang.</p>
<p><span id="more-58"></span>Sajak pembuka di atas merepresentasikan kehidupan Nabi Musa dalam menghadapi ujian Alloh yang berat ini demi meningkatkan iman dan tauhid beliau. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira menjadi,</p>
<p align="center">Pernahkah dalam hidup ini anda terbuntu di <strong><span style="color:#ff0000;">Laut Merah</span></strong></p>
<p align="center">Yang walau apapun anda boleh buat dan rancang</p>
<p align="center">Namun anda tak mungkin mundur konon pula menyerah</p>
<p align="center">Satu-satunya jalan hanyalah terus menyeberang</p>
<p>Musa ‘Alaihissalam tawakkal ‘ala Alloh atas perkara yang sedang dialaminya akibat patuhnya beliau kepada perintah Alloh. Maka Alloh Subhanahu wa Ta’ala tak mungkin mengecewakan hambanya yang memenuhi seluruh kehendakNya.</p>
<p>“Wahai orang yang beriman, jika kamu menolong (melaksanakan semua perintah) Alloh, maka Ia akan menolong kamu dan memantapkan langkah-langkahmu.” (QS. Muhammad: 7)</p>
<p>Maka dengan kehendak Alloh, laut Merah menyibakkan airnya dan memberikan rombongan Musa ‘Alaihissalam jalan untuk lewat menyeberang. Sementara itu barisan lasykar Fir’aun dihadang oleh api besar sampai rombongan Musa ‘alaihissalam hampir selesai menyeberang. Sesudah api besar itu reda, lasykar Fir’aun mengejar menyeberangi laut yang masih terbuka itu sampai ke tengah, maka laut itupun menelan mereka seluruhnya. Inilah kekuatan pengaruh tauhid yang bagi seorang Rasul seperti Musa ‘Alaihissalam telah berubah menjadi apa yang dinamakan mukjizat.</p>
<p>Barangkali kita pun pernah mengalami suatu situasi yang hampir mirip dengan kisah tersebut. Terpojok, tidak ada jalan lain kecuali harus tetap melangkah. Seharusnya, kita jangan sampai punya pikiran TIDAK BISA! Melainkan <strong>PASTI BISA!</strong> Harus punya harapan yang tinggi dan keyakinan kuat untuk mencapai yang tertinggi.</p>
<p>Perjalanan menuju sukses kerap kali diwarnai oleh kekhawatiran sehingga terkadang membuat kita cenderung untuk kembali, bahkan mundur dari pergumulan hidup yang selalu dilalui. Hal ini pula yang membuat banyak orang mengalami stagnasi pertumbuhan dalam meraih keberhasilan hanya karena takut tidak berhasil atau takut ditolak oleh orang lain. John C. Maxwell pernah mengatakan, “Kekhawatiran akan menghambat tindakan, tiadanya tindakan menuntun pada tidak adanya pengalaman, tiadanya pengalaman menuntun kita pada ketidaktahuan, dan ketidaktahuan akan melahirkan kekhawatiran.” Jadi, ketakutan jika tidak disikapi dengan baik, justru akan melahirkan sejumlah kekhawatiran baru.</p>
<p>Kekhawatiran yang muncul, terkadang menyebabkan jiwa ini mengerdil. Akan tetapi, yakinlah bahwa Alloh selalu membersamai. Suara mukmin sejati bukan lagi, “Ya Alloh, aku punya masalah yang besar.” Melainkan, <span style="color:#ff0000;"><strong>“Hai masalah, aku punya Alloh Yang Maha Besar!”</strong></span></p>
<p><span style="color:#999999;">Referensi:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#999999;">Kuliah Tauhid, Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim Ph.D.</span></li>
<li><span style="color:#999999;">Setengah Isi Setengah Kosong, Parlindungan Marpaung</span></li>
</ul>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kicaukata.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kicaukata.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kicaukata.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kicaukata.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kicaukata.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kicaukata.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kicaukata.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kicaukata.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kicaukata.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kicaukata.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=58&subd=kicaukata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kicaukata.wordpress.com/2009/06/27/tidak-ada-masalah-yang-besar-karena-kita-punya-alloh-yang-maha-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96fdcc2a3caabd8f4110d8f78eeeed44?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika CINCIN Dibiayai Negara</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com/2009/06/10/ketika-cincin-dibiayai-negara-rp-19-m-bayangpun/</link>
		<comments>http://kicaukata.wordpress.com/2009/06/10/ketika-cincin-dibiayai-negara-rp-19-m-bayangpun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 01:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>just azzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[mukmin]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[cincin DPR]]></category>
		<category><![CDATA[cincin]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[negara. dewan]]></category>
		<category><![CDATA[korup]]></category>
		<category><![CDATA[24 karat]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[10 gram]]></category>
		<category><![CDATA[anggota dewan]]></category>
		<category><![CDATA[anggota]]></category>
		<category><![CDATA[cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[kenang-kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[lapis]]></category>
		<category><![CDATA[peka]]></category>
		<category><![CDATA[malu]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[mubazir]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[suara anda]]></category>
		<category><![CDATA[metro tv]]></category>
		<category><![CDATA[kaca]]></category>
		<category><![CDATA[cermin]]></category>
		<category><![CDATA[perhiasan]]></category>
		<category><![CDATA[sutera]]></category>
		<category><![CDATA[ewuh pakewuh]]></category>
		<category><![CDATA[sungkan]]></category>
		<category><![CDATA[asal bapak senang]]></category>
		<category><![CDATA[ABS]]></category>
		<category><![CDATA[yes man]]></category>
		<category><![CDATA[senior]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>
		<category><![CDATA[wakil rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[miris]]></category>
		<category><![CDATA[neko-neko]]></category>
		<category><![CDATA[kampanye]]></category>
		<category><![CDATA[pilpres]]></category>
		<category><![CDATA[pileg]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[dukungan]]></category>
		<category><![CDATA[buruk rupa cermin dibelah]]></category>
		<category><![CDATA[habis manis sepah dibuang]]></category>
		<category><![CDATA[eksploitasi]]></category>
		<category><![CDATA[komentar]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat]]></category>
		<category><![CDATA[wong cilik]]></category>
		<category><![CDATA[pro rakyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kicaukata.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Ketua DPR: Cincin Emas Anggota DPR Rutin Tiap Periode.

Sungguh miris melihat tingkah anggota dewan (katanya) terhormat itu. Mereka baru-baru ini diberitakan meminta agar diberi cinderamata menjelang masa baktinya, berupa CINCIN berlapis emas 24 karat seberat 10 gram. Konon total nilainya mencapai 1,9 Milyar. Bayangpun!
Ah, dimana kepekaan anggota DPR itu? Dimana letak malu mereka? Dimana rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=53&subd=kicaukata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Ketua DPR: Cincin Emas Anggota DPR Rutin Tiap Periode.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-54" title="kompleks-mpr-dpr" src="http://kicaukata.files.wordpress.com/2009/06/5595kompleks-mpr-dpr.png?w=300&#038;h=258" alt="kompleks-mpr-dpr" width="300" height="258" /></p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh miris melihat tingkah anggota dewan (katanya) terhormat itu. Mereka baru-baru ini diberitakan meminta agar diberi <a href="http://berita.liputan6.com/politik/200906/232760/Miliaran.Rupiah.Cincin.Anggota.DPR" target="_blank">cinderamata</a> menjelang masa baktinya, berupa<a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/09/12012993/cincin.rp.19.miliar.untuk.anggota.dpr" target="_blank"> <span style="color:#ff6600;"><strong>CINCIN</strong></span></a> berlapis emas 24 karat seberat 10 gram. Konon total nilainya mencapai 1,9 Milyar. Bayangpun!</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, dimana ke<span style="color:#ff0000;">peka</span>an anggota DPR itu? Dimana letak <span style="color:#ff0000;">malu</span> mereka? Dimana rasa<span style="color:#ff0000;"> empati </span>mereka? Di sisi lain, jangankan untuk membeli perhiasan, untuk makan buat esok hari saja masih banyak rakyat yang bingung. Sungguh terlalu! Katanya, pemberian cinderamata ini sudah dilakukan secara turun temurun dari dulu. Sudah tradisi. Lantas, bilamana tradisi itu buruk dan mubazir, apa mesti diikuti juga? Mbok yao, tradisi-tradisi yang buruk itu dihilangkan atau diganti dengan sesuatu yang lebih bijak/baik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-53"></span>Terkait dengan <a href="http://news.okezone.com/read/2009/06/09/1/227714/1/ngabalin-saya-tidak-bisa-pakai-cincin-emas" target="_blank"><span style="color:#ff6600;"><strong>CINCIN</strong></span></a> berlapis emas ini, Islam telah melarang emas dan sutera dikenakan oleh laki-laki. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Daud, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambil sutera kemudian meletakkannya di tangan kanannya dan mengambil emas kemudian meletakkannya di tangan kirinya kemudian bersabda, “Sesungguhnya dua barang ini haram bagi laki-laki dari umatku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika membaca salah satu komentar dari status <a href="http://facebook.com" target="_blank"><em>facebook</em></a> ‘<a href="http://www.facebook.com/people/Suara-Anda-Metrotv/1098196783" target="_blank">suara anda</a>’ <a href="http://www.metrotvnews.com/" target="_blank">Metro TV</a>, ada yang berpendapat, “Seharusnya <a href="http://id.news.yahoo.com/dtik/20090609/tpl-anggota-dpr-lama-dapat-cincin-rp-1-9-b28636a.html" target="_blank">cinderamata </a>buatt mereka jangan <a href="http://news.okezone.com/read/2009/06/08/1/227292/1/cinderamata-cincin-dpr-tak-perlu-dihapus" target="_blank"><span style="color:#ff6600;">cincin</span></a> tapi CERMIN, supaya mereka semua bisa berkaca, mereka telah berbuat apa untuk rakyat selama masa jabatan kemarin??!” Menarik. Bisa jadi mereka memang jarang bercermin. Tapi jangan sampai, setelah dikasih cermin kemudian malah melakukan tindakan seperti yang digambarkan dalam peribahasa, “Buruk rupa cermin dibelah.” Yang berarti, marah kepada orang yang menunjukkan kesalahan kita sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Terkadang, sikap kritis itu diperlukan. Dalam budaya Jawa, dikenal budaya ‘<em>ewuh pakewuh</em>’ a.k.a sungkan. Dalam batas normal, budaya <em>ewuh pakewuh</em> ini akan meningkatkan kualitas hubungan seseorang dan semakin meningkatkan tali silaturahmi dalam kumpulan atau organisasi. Namun, porsi yang berlebihan dari <em>ewuh pakewuh</em> ini terhadap tegaknya suatu kebenaran dan keadilan justru akan menghambat bergulirnya roda organisasi dan pencapaian tujuan yang telah dicapai bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">Di lain pihak, seseorang yang sudah terlalu banyak menerima pemberian (kebaikan) orang lain, akan sulit untuk menegur si pemberi tersebut ketika yang bersangkutan melakukan kesalahan. Mungkin juga dapat terjadi seseorang sulit memberi masukan pada orang lain (mungkin atasannya sekalipun) yang sudah sangat senior dengan segudang kompetensi yang dimiliki. Ketika ‘<em>ewuh pukewuh</em>’ dirasa sangat berlebihan, maka akan memicu seseorang untuk “<em>Yes Man</em>” atau Asal Bapak Senang (ABS).</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan Rasulullah menerjemahkan makna kesetiaan, persaudaraan, kebersamaan diantara kaum beriman dalam sabdanya, “<strong>Mukmin adalah cermin bagi saudaranya</strong>.”</p>
<p style="text-align:justify;">Cermin. Banyak sifat khas dari cermin. <span style="color:#0000ff;"> </span></p>
<ol>
<li><span style="color:#0000ff;">Cermin sifatnya halus</span>, tidak kasar dalam menyampaikan informasi apapun dari orang yang ada di hadapannya. Artinya, seorang mukmin harus lemah lembut, halus, tidak kasar dalam menyampaikan nasihat atau teguran kepada saudaranya.</li>
<li><span style="color:#0000ff;">Cermin juga pandai menyimpan rahasia</span>. Tidak menyampaikan informasi apapun kepada orang lain kecuali orang yang ada di hadapannya. Artinya seorang mukmin juga tidak menceritakan aib saudaranya kepada orang lain.</li>
<li>Selain itu <span style="color:#0000ff;">cermin tidak pilih kasih</span>. Artinya, cermin tidak peduli siapapun yang ada di hadapannya, ia tetap akan menyampaikan informasi apa adanya kepada siapapun. Berarti seorang mukmin tidak boleh pilih kasih dalam memberi nasihat. Tidak pandang status sosial, keturunan, pangkat, dan semacamnya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sungguh miris, bilamana usulan cinderamata <strong>CINCIN</strong> ini disetujui nantinya. Bukankah wakil rakyat seharusnya merakyat? Padahal saat pemilihan anggota legislatif, yang mereka gadang-gadang dalam kampanye mereka adalah kata <strong>RAKYAT</strong>. Rasanya gak afdhal bila para caleg kelewat menyebu kata ini dalam setiap kampanyenya. Rasa takut menyelimuti jika mereka disebut tidak <strong>pro</strong> <strong>rakyat</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal, yang diinginkan oleh rakyat tidaklah <em>neko-neko</em>. Rakyat tidak membutuhkan belas kasihan dari pemimpin maupun para wakil rakyat di senayan. Yang rakyat inginkan adalah para pemimpin maupun wakil rakyat menjalankan tugas dengan amanah, baik, dan benar. Sehingga mereka tidak merasa sia-sia menjatuhkan dukungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya. Rakyat hanya dijadikan eksploitasi. Mendekati <em>wong cilik</em> saat dibutuhkan. Lalu mencampakkannya saat kepentingan mereka telah tercapai. Jangankan peduli nasib rakyat, mendengarkannya pun tak sudi. Tutup telinga dan tutup mata. Persis pepatah, habis manis sepah dibuang.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga mereka sadar. Semoga saja. Tapi kapan sadarnya? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#999999;">Referensi:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#999999;">Nasihat Ruhani, Muhammad Nursani</span></li>
<li><span style="color:#999999;">Setengah Isi Setengah Kosong, Parlindungan Marpaung</span></li>
<li><span style="color:#999999;">Sabili edisi Juni 2009<br />
</span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kicaukata.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kicaukata.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kicaukata.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kicaukata.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kicaukata.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kicaukata.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kicaukata.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kicaukata.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kicaukata.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kicaukata.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=53&subd=kicaukata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kicaukata.wordpress.com/2009/06/10/ketika-cincin-dibiayai-negara-rp-19-m-bayangpun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96fdcc2a3caabd8f4110d8f78eeeed44?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azzam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kicaukata.files.wordpress.com/2009/06/5595kompleks-mpr-dpr.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kompleks-mpr-dpr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harga Sebuah Kesabaran</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com/2009/05/12/harga-sebuah-kesabaran/</link>
		<comments>http://kicaukata.wordpress.com/2009/05/12/harga-sebuah-kesabaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 16:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>just azzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Dawud]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Salamah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalhah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Alloh]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[‘Abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[‘Umar bin Abdul ‘Aziz]]></category>
		<category><![CDATA[barakah]]></category>
		<category><![CDATA[barang]]></category>
		<category><![CDATA[dongkol]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[jasad]]></category>
		<category><![CDATA[kembali]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[mesra]]></category>
		<category><![CDATA[mukminah]]></category>
		<category><![CDATA[musibah]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin]]></category>
		<category><![CDATA[pengantin baru]]></category>
		<category><![CDATA[penghafal Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pinjam]]></category>
		<category><![CDATA[putra]]></category>
		<category><![CDATA[qari']]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[shadaqah]]></category>
		<category><![CDATA[shalihah]]></category>
		<category><![CDATA[suami]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>
		<category><![CDATA[tenteram]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Salamah]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Sulaim]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kicaukata.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[
Ummu Salamah berkata, “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Alloh, ‘innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kita ini milik Alloh dan kepadaNyalah kita akan kembali). Ya Alloh berikanlah pahala kepadaku atas musibah ini, dan gantikanlah dengan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=46&subd=kicaukata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ummu Salamah berkata, “Saya mendengar Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda, <span style="color:#3366ff;">“Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa suatu musibah lalu mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Alloh, <em>‘innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun’</em> (Sesungguhnya kita ini milik Alloh dan kepadaNyalah kita akan kembali). Ya Alloh berikanlah pahala kepadaku atas musibah ini, dan gantikanlah dengan yang lebih baik darinya”</span>, kecuali Alloh akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Maka ketika Abu Salamah wafat, aku bergumam, <span id="more-46"></span>“Siapa muslimin yang lebih baik dari Abu Salamah-sebuah keluarga yang pertama kali berhijrah kepada Rasulullah?” Tetapi, aku lalu mengucapkan do’a tersebut. Dan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> pun menggantikannya dengan Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em>. [HR. Muslim <em>al-Jana’iz</em>, VI/220]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ya, sepeninggal Abu Salamah, Ummu Salamah kemudian dinikahi oleh Rasulullah<em> Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.<br />
</em></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:center;">* * *</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meriwayatkan, “Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah mengenai jasadnya, hartanya, dan anaknya sehingga ia menghadap Alloh tanpa membawa dosa.” [HR. Ahmad dalam <em>Musnad</em> II/287, At-Tirmidziy dalam <em>Az-Zuhd</em> VII/80]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sejenak kita terbang ke sudut lain di kota Madinah. Kita belajar dari sebuah kisah, bahwasanya hubungan antara kita dengan jasad diri, harta, maupun anak bukanlah hubungan saling memiliki. Kesemuanya itu <span style="color:#ff0000;">Alloh pinjamkan</span> untuk kita. Mari kita simak kisah dari Ummu Sulaim berikut ini, salah seorang wanita yang dijanjikan surga.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Lengkapnya, Ummu Sulaim binti Milhan nama wanita itu. Ia yang dinikahi Abu Thalhah Al-Anshari dengan mahar keislaman calon suaminya. Kisah agung pernikahan suci mereka berlanjut hingga saat mereka sudah dikaruniai putra. Para penulis hadits mengabadikan kisah sakitnya putra semata mayang dari kedua pasangan mulia ini. Ya, kisah ini memberikan hikmah yang dalam dan pelajaran yang tinggi kepada siapapun yang mencari teladan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Suatu hari, putra Abu Thalhah dan Ummu Sulaim sakit keras. Semakin hari semakin parah saja tampaknya, sedangkan Abu Thalhah tetap harus menjalankan usaha perniagaannya. Alloh berkehendak mengambil kembali anak kecil itu dari kehidupan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim ketika sang ayah tak ada di rumah.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ummu sulaim berkata kepada keluarganya, “Janganlah kalian memberitahukan kepada Abu Thalhah akan kematian putra kesayangannya. Biar aku sendiri yang akan menyampaikannya.” Jasad sang putra pun ditempatkan di kamarnya semula. Terbaring tenang. Kemudian Ummu Sulaim mengenakan busananya yang paling bagus. Dia merias dirinya secantik mungkin dan memasak makanan istimewa kesukaan Abu Thalhah. Ketika pulang, Abu Thalhah segera menanyakan bagaimana keadaan sang putra yang ditinggalkan dalam kondisi sakit.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ummu Sulaim menjawab, “Dia sekarang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.” Jawaban ini sangat melegakan bagi Abu Thalhah, padahal tentu yang dimaksud Ummu Sulaim <span style="color:#ff0000;">&#8216;lebih tenang daripada sebelumnya&#8217; </span>berbeda’dari pemahaman Abu Thalhah.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Karena merasa tenang, maka Abu Thalhah menyantap makanan yang telah dihidangkan oleh istrinya. Setelah itu sang istri memperlakukannya dengan sangat mesra layaknya pengantin baru. Lalu <span style="color:#ff0000;">‘shadaqah’ </span>pun selesai ditunaikan Abu Thalhah, hingga ia merasa tenang dan tenteram. Malam ini seolah menjadi <span style="color:#ff0000;">malam pengantin mereka yang kedua</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Luar biasa wanita ini. Ia pun sebenarnya dirundung duka begitu dalam, tetapi ia ingin agar beban kesedihan dan nestapa yang akan didengar suaminya agak terkurangi dengan sambutannya malam ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Wahai Abu Thalhah”, kata Ummu Sulaim kemudian. “Bagaimana pendapatmu, sekiranya ada seorang yang menitipkan sesuatu kepada orang lain untuk suatu masa tertentu. Kemudian ketika si pemilik itu hendak <span style="color:#ff0000;">mengambil</span> barangnya kembali, patutkah jika orang yang dititipi itu <span style="color:#ff0000;">keberatan</span>?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Sebenarnya tidak boleh begitu”, kata Abu Thalhah. “Ia wajib untuk segera <span style="color:#ff0000;">mengembalikan</span> barang itu kepada pemiliknya dengan penuh <span style="color:#ff0000;">keikhlasan</span>. Bukankah barang itu memang bukan miliknya?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Ummu Sulaim kemudian mengatakan, “Kalau begitu, ketahuilah bahwa putra kita adalah<span style="color:#ff0000;"> milik Alloh</span> yang dititipkan kepada kita. <span style="color:#ff0000;">Ikhlaskanlah</span> putramu, karena kini Sang Pemilik telah mengambil barang titipannya.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Abu Thalhah marah dan dongkol sekali. Bagaimana bisa tadi dia makan dengan sangat lahap kemudian <span style="color:#ff0000;">bermesraan</span> bagaikan pengantin baru padahal putra terkasihnya terbujur kaku di kamar sebelah. “Mengapa baru sekarang kau katakan? Mengapa sejak tadi kau diam saja? Sampai-sampai keadaan kita berdua sudah seperti ini.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Paginya dengan menahan kesedihan, keharuan, dan kejengkelan pada istrinya, Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah <em>Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam</em>. Dia laporkan apa yang telah dilakukan Ummu Sulaim kepadanya. Sungguh agung. Rasul mulia itu justru bersabda, “<span style="color:#ff0000;">Pengantinankah</span> kalian berdua semalam?”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Abu Thalhah tertunduk <span style="color:#ff0000;">malu</span>, “Benar, Ya Rasulullah.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Mudah-mudahan Alloh memberikan <span style="color:#ff0000;">barakahNya </span>untuk kalian berdua pada malam yang telah kalian lalui bersama.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Benarlah yang beliau sabdakan. Tak lama kemudian Ummu Sulaim mengandung dan ketika lahir, sang bayi diberi nama ‘Abdullah. Perawi hadits ini –yang dikutip Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud–  berkomentar, “Aku telah mendapatkan informasi bahwa ‘Abdullah memiliki sembilan orang putra yang kesemuanya adalah <span style="color:#ff0000;">Qari’ penghafal Al-Qur’an</span>. Inilah <span style="color:#ff0000;">barakah</span> malam itu. Inilah yang dilahirkan oleh seorang wanita mukminah lagi shalihah.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="color:#008000;">“Tidaklah Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="color:#008000;">menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba,</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="color:#008000;">lalu DIA mencabutnya dan sang hamba pun bersabar atasnya,</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="color:#008000;">kecuali Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> akan menggantikannya dengan yang lebih baik.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="color:#008000;">[Perkataan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz]</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#808080;">Referensi:</span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#808080;">Tazkiyatun Nafs; 	Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Ibnu Rajab al-Hambali, Imam al-Ghazali</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#808080;">Jalan Cinta Para 	Pejuang; Salim A. Fillah</span></p>
</li>
</ul>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kicaukata.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kicaukata.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kicaukata.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kicaukata.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kicaukata.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kicaukata.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kicaukata.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kicaukata.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kicaukata.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kicaukata.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=46&subd=kicaukata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kicaukata.wordpress.com/2009/05/12/harga-sebuah-kesabaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96fdcc2a3caabd8f4110d8f78eeeed44?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teruntuk Jantung Hatiku, Sang Pelipur Hati</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com/2009/05/05/teruntuk-jantung-hatiku-sang-pelipur-hati/</link>
		<comments>http://kicaukata.wordpress.com/2009/05/05/teruntuk-jantung-hatiku-sang-pelipur-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 14:19:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>just azzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[airmata]]></category>
		<category><![CDATA[Alloh]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[bebuyutan]]></category>
		<category><![CDATA[berbakti]]></category>
		<category><![CDATA[bertemu]]></category>
		<category><![CDATA[besar]]></category>
		<category><![CDATA[bungkuk]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dermawan]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[dibopong]]></category>
		<category><![CDATA[dipapah]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[ganjaran]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jantung hati]]></category>
		<category><![CDATA[jatah]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kecil]]></category>
		<category><![CDATA[keluhan]]></category>
		<category><![CDATA[kunjungi]]></category>
		<category><![CDATA[lalai]]></category>
		<category><![CDATA[langit]]></category>
		<category><![CDATA[lemah]]></category>
		<category><![CDATA[letih]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[murka]]></category>
		<category><![CDATA[musuh]]></category>
		<category><![CDATA[neraka]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[pahala]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[pelayan]]></category>
		<category><![CDATA[pelipur hati]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[punggung]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[renta]]></category>
		<category><![CDATA[risalah]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>
		<category><![CDATA[sengsara]]></category>
		<category><![CDATA[senyum]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[supel]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[tangis]]></category>
		<category><![CDATA[tempat sampah]]></category>
		<category><![CDATA[terminal]]></category>
		<category><![CDATA[tua]]></category>
		<category><![CDATA[upah]]></category>
		<category><![CDATA[usia]]></category>
		<category><![CDATA[wajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kicaukata.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[
Masih ingat postingan saya berjudul &#8216;Sepucuk Surat untuk Ibu&#8217;. Maka ini adalah sekuel-nya.
Sebuah surat yang ditulis oleh seorang ibu kepada anaknya, yang mudah-mudahan bisa menjadi ittiba’ dan pelajaran bagi kita semua. Risalah (surat) yang ditulis oleh seorang ibu ketika ia melihat anaknya tidak lagi melakukan kewajibannya sebagai seorang anak. Surat yang ditulis dari hati yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=41&subd=kicaukata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Masih ingat postingan saya berjudul <a href="http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/18/sepucuk-surat-untuk-ibu/" target="_blank">&#8216;Sepucuk Surat untuk Ibu&#8217;</a>. Maka ini adalah sekuel-nya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Sebuah surat yang ditulis oleh seorang ibu kepada anaknya, yang mudah-mudahan bisa menjadi ittiba’ dan pelajaran bagi kita semua. Risalah (surat) yang ditulis oleh seorang ibu ketika ia melihat anaknya tidak lagi melakukan kewajibannya sebagai seorang anak. Surat yang ditulis dari hati yang telah lupa. Surat yang ditulis dengan airmata. Surat yang ditulis dengan harapan belas kasihan seorang anak atas berikan kepada ibunya. Surat yang ditulis oleh seorang manusia yang telah mengabdi bertahun-tahun kepada anaknya tersebut. Yang ditulis oleh seorang pelayan yang telah berbakti pada se</span><span lang="id-ID">seorang yang sekarang dengannya. Anaknya tersebut, sekarang ia tidak mau dan belum mengerti akan hakikat berbakti. Mari kita baca isi surat tersebut.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#008000;">Catatan: </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#008000;">Surat ini cukup panjang. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik. Bacalah dengan Asma Rabbmu yang Telah Mencipta: Surat Untuk Jantung Hatiku.</span></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID"><span id="more-41"></span>Anakku!</span> <span lang="id-ID">Surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">sengsara</span></span><span lang="id-ID">. Ia coba untuk menulis diatas keraguan dan rasa malu. Setelah berpikir panjang, ia goreskan pena berulangkali. Akan tetapi</span>,<span lang="id-ID"> selalu terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali ia menitikkan airmata, setiap itu pula hatinya terluka.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Anakku! Setelah umur yang panjang ini. Kulihat engkau telah menjadi laki-laki yang dewasa. Yang cerdas dan yang bijak. Karenanya engkau pantas untuk membaca tulisan ibu ini. Sekalipun nantinya engkau sobek kertas ini sebagaimana sebelumnya </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">engkau telah menyobek hati ini</span></span><span lang="id-ID">.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Wahai anakku! 25 tahun telah berlalu. Dan tahun-tahun itu adalah tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Ketika itu dokter datang memberitahukanku. Bahwa aku </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">positif hamil</span></span><span lang="id-ID">. Dan semua para ibu mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur gembira, bersama bahagia. Sebagaimana ia adalah awal mula perubahan fisik dan emosi. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Setelah kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur dalam kesulitan</span><span lang="id-ID">. Berdiri dalam kesulitan. Makan dalam kesulitan. Bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi</span>,<span lang="id-ID"> itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu. Bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Aku mengandungmu wahai anakku. </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">Dalam kondisi lemah diatas lemah</span></span><span lang="id-ID">. Akan tetapi aku gembira. Setiap kali aku melihat gerakan di perutku. Aku bahagia, setiap kali aku menimbang</span>,<span lang="id-ID"> tubuhku bertambah dengan bertambahnya berat badan</span>m<span lang="id-ID">u. Padahal, </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">kandungan itu sangat berat</span></span><span lang="id-ID"> wahai anakku. Penderitaan yang berkepanjangan itu telah sampai ketika fajar malam itu. Yaitu ketika mata ini tidak bisa dipicikkan. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan takut yang tidak bisa dilukiskan. Sakit itu terus berlanjut. Sehingga aku tidak lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian di hadapanku. Sampai engkau benar-benar keluar ke alam dunia. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Ketika aku melihat engkau keluar ke alam dunia, bercampur airmataku pada saat itu dengan airmata tangismu. Dengan itu semua telah sirna</span> s<span lang="id-ID">emua keletihan dan kesedihanku. Bahkan </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">kasihku bertambah dengan kuatnya sakitku</span></span><span lang="id-ID">. Aku disuruh cium dirimu sebelum aku meneguk satu tetes air.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Wahai anakku!<span lang="id-ID"> Telah berlalu tahun dan usiamu. Sedangkan aku membawamu dengan hatiku. Memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Memberi</span>kan<span lang="id-ID"> saripati hidupku padamu. Aku tidak tidur demi tidurmu. Aku berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Setiap harinya aku hanya berharap bahwa </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">engkau tersenyum</span></span><span lang="id-ID">. Kebahagiaanku setiap saat yang aku harapkan adalah permintaanmu dari mulut mungilmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku di hari masa kecilmu.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Lalu berlalulah</span><span lang="id-ID">, sedangkan aku setia menjadi pelayan yang tidak pernah lalai. Dayang yang tidak pernah berhenti. Pekerja yang tidak pernah mengenal lelah. Mendengarkan seratus kebaikan dan taufik untukmu. Itu semua aku perhatikan demi hari per hari sampai engkau telah dewasa. Telah tegak pula badanmu. Telah nampak jiwa laki-lakimu pada tingkah laku dan keseharianmu. Saat itu pula </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan</span></span><span lang="id-ID"> agar engkau mendapat pasangan hidup.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">Datanglah hari perkawinanmu wahai anakku. Berarti hampir dekat pula kepergianmu dariku. Tatkala itu hatiku terasa teriris, airmata pun mengalir. Bertempuh kebahagiaan dengan kesedihan. Bagaimana pula tidak. Aku bahagia karena engkau akan mendapatkan pasangan. Akan tetapi bersamaan dengan itu, aku sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku. Waktu pun kembali. Seakan-akan menyeretnya dengan jalannya. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Waktu sudah berlalu setelah engkau menikah. Setelah </span><span lang="id-ID">engkau berkeluarga. Setelah engkau bawa boyong istrimu dan anak-anakmu dari rumahku. Waktu bagiku agak terasa lambat, sangat lambat. Perkawinan itu menyebabkan engkau tidak lagi mengenal diriku. Senyummu telah sirna di hadapanku. Sebagaimana sirnanya matahari ditutupi oleh kegelapan malam. Suaramu telah tenggelam. Sebagaimana tenggelamnya batu dijatuhkan ke dalam kolam yang sunyi dan kelam. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakan</span>,<span lang="id-ID"> sudah melupakan hakku.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Hari-hari yang dilewati terasa lama. </span>Hanya <span lang="id-ID">ingin </span>aku <span lang="id-ID">melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung, hanya sebatas untuk mendengar suaramu. Akan tetapi penantian tetap penantian. Penantian yang sangat panjang. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Aku selalu berdiri di pintu, hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu yang tidak pernah kunjung datang. Sampai-sampai setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah dia orangnya yang aku tunggu. Setiap kali berdering telepon, aku merasa bahwa engkau yang akan meneleponku. Setiap </span>suara<span lang="id-ID"> kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang. Akan tetapi semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia. Harapanku hancur. Yang ada hanya keputus-asaan. Yang tersisa adalah kesedihan. Dari semua keletihan selama ini yang hinggap hanya menangisi </span>diri <span lang="id-ID">dari batin yang memang telah ditakdirkan sengsara.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Anakku, ibumu tidaklah meminta banyak. Ia tidaklah menagih hal yang bukan-bukan. Satu yang ibu pinta. Satu yang ibu harapkan</span><span lang="id-ID">. Sekiranya engkau rela, jadikanlah ibumu ini sebagai <span style="color:#ff0000;">sahabat</span>, sekalipun ia sahabat yang jauh dalam kehidupanmu. Dan jangan sekali-kali engkau jadikan ibumu <span style="color:#ff0000;">musuh</span> yang engkau jauhi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="id-ID" align="justify">Yang ibu tagih kepadamu wahai anakku, jadikanlah rumah ibumu ini <span style="color:#ff0000;">terminal</span>. Sekalipun ia adalah terminal yang jauh. Agar engkau dapat pula sekali-kali singgah sekalipun hanya satu detik. Jangan sekali-kali engkau jadikan rumah ibumu ini adalah <span style="color:#ff0000;">tempat sampah</span> yang memang engkau tidak pernah mengunjunginya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Anakku! Telah bungkuk pula punggungku. Dan gemetar tanganku. Badanku telah pula dimakan oleh usia. Tubuhku telah pula digerogoti oleh penyakit. Berdirinya ibu seharusnya dipapah. Duduknya ibu seharusnya dibopong. Akan tetapi, walaupun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu. Masih seperti <span style="color:#ff0000;">lautan yang tidak pernah kering</span>. Masih seperti <span style="color:#ff0000;">angin yang tidak pernah berhenti</span>. Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang</span>,<span lang="id-ID"> tentu engkau akan membalas kebaikannya dengan kebaikan. Akan tetapi, ibu yang telah berbuat banyak kepadamu. Yang telah berlalu, berletih-letih kepadamu. <span style="color:#ff0000;">Mana balas budimu wahai anakku? Mana balasan baikmu?</span> Sampai begitu keraskah hatimu setelah berlalunya hari, setelah ber</span>se<span lang="id-ID">langnya waktu? Setelah engkau meninggalkan ibumu di sudut rumah yang sepi lagi mungil ini. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Wahai anakku! Setiap kali aku mendengar engkau <span style="color:#ff0000;">bahagia</span> dengan hidupmu. Setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak pula aku bahagia, karena engkau adalah garapan kedua tanganku. Kiranya dosa apa yang telah aku perbuat sehingga aku engkau jadikan <span style="color:#ff0000;">musuh</span> bebuyutanmu</span>?<span lang="id-ID"> <span style="color:#ff0000;">Ini dosanya seorang ibu? </span><span style="color:#ff0000;">Dosa</span> apa wahai anakku? Kiranya engkau menjadikan aku musuh bebuyutan. Engkau <span style="color:#ff0000;">musuhi</span></span>,<span lang="id-ID"> engkau tidak pernah sapa, tidak pernah kunjungi, tidak pernah hampiri. Apakah aku pernah salah</span>,<span lang="id-ID"> satu hari dalam bergaul denganmu? Atau aku pernah berbuat lalai dalam melayanimu? Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang hina dari sekian banyak pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah? Dan mereka semua telah engkau berikan perlindungan. </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">Mana upahku wahai anakku? Mana ganjaranku? Mana jatahku?</span></span><span lang="id-ID"> Mengapa engkau tidak memberi sedikit perlindungan di bawah naungan kebesaranmu. Mengapa engkau tidak anugerahkan sedikit kasih sayangmu demi pengobatan derita orangtua yang lemah ini. Padahal Alloh subhanahu wa ta’ala </span>menyukai orang yang dermawan.<span lang="id-ID"> <span style="color:#ff0000;">Bukankah ganjaran yang baik seharusnya dibalas dengan ganjaran yang baik?</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Yang telah ibu pinta di hari-hari akhir ibu ini adalah hanya untuk melihat wajahmu. Aku tidak menginkan yang lainnya. Aku tidak menginginkan hartamu yang banyak. Tidak menginginkan kebesaranmu yang luas. Tidak menginginkan tahtamu yang tinggi. </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">Yang ibu inginkan hanya wajahmu di hadapanku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Wahai anakku! Hatiku serasa teriris. Airmataku mengalir. Sedangkan engkau masih sangat berarti. Karena orang-orang mengatakan bahwa engkau adalah seorang yang supel dalam pergaulan. Engkau adalah seorang yang dermawan di dalam pemberian. Engkau adalah orang yang berbudi di dalam masyarakat. </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">Akan tetapi, mana supelmu kepada ibumu? Mana dermawanmu kepada ibumu? Mana budimu kepada ibumu? </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Anakku! Apakah hatimu tidak tersentuh terhadap seorang wanita tua yang lemah yang telah binasa dimakan oleh pintu berselimutkan selalu kesedihan, dan berpakaian selalu kedukaan.</span><span lang="id-ID"> Karena engkau. Berbahagiakah engkau? Karena engkau telah berhasil mengalirkan airmatanya. </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">Tapi, murka engkau!</span></span><span lang="id-ID"> Karena selama ini engkau telah berhasil membuat sedih hatinya. Berbahagiakah engkau</span>?<span lang="id-ID"> </span>K<span lang="id-ID">arena engkau telah berhasil memutuskan tali silaturahim dengan ibumu</span>.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Wahai anakku! </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">Inilah pintu surga</span></span><span lang="id-ID">. Maka cucilah, pergilah engkau disana. Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis. Kumaafkan! Dan balas budi yang baik aku denganmu nanti bertemu disana. Dengan kasih sayang Alloh sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span><span style="color:#0070c0;">“</span><span style="color:#0070c0;"><span lang="id-ID">Alloh tahu. Orangtua adalah pintu tengah surga. Jika seandainya engkau menginginkan maka hilangkanlah pintu itu atau jagalah pintu.</span></span><span style="color:#0070c0;">”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Anakku! Selama ini aku mengenalmu bahwa engkau adalah laki-laki yang terlalu tamak dengan pahala. Yang terlalu rakus dengan ganjaran. Yang terlalu mengharapkan ampunan dari Alloh azza wa jalla. Akan tetapi, yang pasti engkau telah melupakan sebuah hadits. Engkau telah melalaikan sebuah sabda Rasulillah</span>i<span lang="id-ID"> shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span><span style="color:#0070c0;">“</span><span style="color:#0070c0;"><span lang="id-ID">Sesungguhnya sebaik-baik amal di sisi Alloh adalah sholat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orangtua, kemudian jihad fi sabilillah.</span></span><span style="color:#0070c0;">”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Anakku! </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">Aku adalah pahalamu</span></span><span lang="id-ID">. Aku adalah ganjaran yang engkau akan panggul. Tanpa engkau harus memerdekakan budak. Tanpa engkau harus banyak-banyak berinfaq. Tanpa engkau harus banyak-banyak beramal. Cukup! Engkau bahagia. Akan tetapi, yang ibu takutkan adalah sabda Rasulillah</span>i<span lang="id-ID"> shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span><span style="color:#0070c0;"><span lang="id-ID">“Celaka! Celaka! Celaka seseorang!”</span></span><span lang="id-ID"> Ditanya oleh sahabat, </span><span style="color:#0070c0;"><span lang="id-ID">“Siapa itu ya Rasulallah?”</span></span><span lang="id-ID"> Maka dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span><span style="color:#0070c0;"><span lang="id-ID">“Celaka </span></span><span style="color:#0070c0;">bag</span><span style="color:#0070c0;"><span lang="id-ID">i seseorang yang memperoleh kedua orangtuanya ketika mereka dalam keadaan tua. Atau salah satu dari mereka berdua. Akan tetapi, tidak membuat anak tersebut masuk surga.</span></span><span style="color:#0070c0;">” </span><span lang="id-ID">Celaka seorang anak yang mendapatkan kedua orangtuanya kemudian ia tidak mendapatkan surga karena orangtuanya tersebut.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="id-ID">Anakku! </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">Ibu tidak akan mengangkat keluhan ini ke langit.</span></span><span lang="id-ID"> Ibu tidak akan adukan duka ini kepada Alloh. Karena ibu yakin sekiranya suara ini sampai ke langit, jeritan ini membumbung menembus awan. Maka yang binasa adalah engkau. Maka yang akan menimpamu adalah kebinasaan dan kesengsaraan. Kebinasaan yang tidak dapat diobati oleh obat. Yang tidak mungkin tersembuhkan oleh dokter dan tabib. Bagaimana pula aku akan mengangkatnya ke langit? Padahal engkau adalah </span><span style="color:#ff0000;"><span lang="id-ID">jantung hatiku</span></span><span lang="id-ID">.</span> Bagaimana pula aku akan adukan kepada Alloh? Padahal engkau adalah <span style="color:#ff0000;">pelipur laraku</span>. Bagaimana pula aku akan tangisi kepada Alloh azza wa jalla? Padahal engkau adalah <span style="color:#ff0000;">kebahagiaan hidupku</span>. Bangunlah nak! Uban sudah mulai merambat di atas kepalamu. Akan berlabuh masa sehingga engkau akan menjadi tua pula. Sebagaimana engkau berbuat, engkau akan memperlakukan hal yang sama. Ganjaran sesuai dengan apa yang kau perbuat. Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat dengan airmatamu kepada anak-anakmu. Sebagaimana aku telah menulisnya dengan airmataku kepadamu.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Anakku! <span style="color:#ff0000;">Bertaqwalah kepada Alloh</span>. Tentang ibu. Peganglah kakinya. Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah airmatanya. Balurlah kesedihannya. Kencangkan tulang ringkihnya. Kokohkan badannya yang lapuk.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Anakku! Setelah engkau membaca surat ini maka terserah kau. Apakah engkau akan sadar dan akan kembali kepada ibumu? Atau engkau menyobek surat ini? Akan tetapi, barangsiapa yang menanam niscaya dia pula yang akan menuai.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">Dari ibumu yang selalu mencintaimu.</span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Inilah risalah seorang ibu kepada anaknya. Mudah-mudahan Alloh subhanahu wa ta’ala mengumpulkan seorang anak ke pangkuan ibunya. Dan Alloh subhanahu wa ta’ala menganugerahkan kasih sayangNya kepada orangtuanya. Memberikan taufik untuk berbakti kepada ibunya terkhusus. Aamiin.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">*tersedu sedan* <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cry.gif' alt=':cry:' class='wp-smiley' /> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kicaukata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kicaukata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kicaukata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kicaukata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kicaukata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kicaukata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kicaukata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kicaukata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kicaukata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kicaukata.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=41&subd=kicaukata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kicaukata.wordpress.com/2009/05/05/teruntuk-jantung-hatiku-sang-pelipur-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96fdcc2a3caabd8f4110d8f78eeeed44?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapa yang kau cintai?</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com/2009/05/01/siapa-yang-kau-cintai/</link>
		<comments>http://kicaukata.wordpress.com/2009/05/01/siapa-yang-kau-cintai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 16:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>just azzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA['umar]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[anutan]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[bola]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[contoh]]></category>
		<category><![CDATA[figur]]></category>
		<category><![CDATA[idol]]></category>
		<category><![CDATA[idola]]></category>
		<category><![CDATA[ingat]]></category>
		<category><![CDATA[jumpa]]></category>
		<category><![CDATA[kagum]]></category>
		<category><![CDATA[kata kerja]]></category>
		<category><![CDATA[menata]]></category>
		<category><![CDATA[mukmin]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[panutan]]></category>
		<category><![CDATA[qudwah]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[riwayat hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sekejap]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[sirah]]></category>
		<category><![CDATA[sirah nabawiyah]]></category>
		<category><![CDATA[tabi'in]]></category>
		<category><![CDATA[takjub]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[uswah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kicaukata.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[
Siapa yang kau cintai?
Cinta. Ya, lagi-lagi soal cinta. Sepertinya tak kan ada habisnya bila membahas soal ini.
Kok jadi bahas ginian sih? Asyik kan. Sebenarnya ini bermula ketika saya melihat hasil pertandingan semifinal liga champions pekan ini. Saya akui, saya senang sepakbola dengan segala intrik maupun pernak-perniknya. Entah sejak kapan. Kemungkinan pada masa-masa SMP. Saat itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=33&subd=kicaukata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Siapa yang kau cintai?</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Cinta. Ya, lagi-lagi soal cinta. Sepertinya tak kan <span lang="id-ID">ada</span> habisnya bila membahas soal ini.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">Kok jadi bahas ginian sih?</span> Asyik kan. Sebenarnya ini bermula ketika saya melihat hasil pertandingan semifinal liga champions pekan ini. Saya akui, saya senang sepakbola dengan segala intrik maupun pernak-perniknya. Entah sejak kapan. Kemungkinan pada masa-masa SMP. Saat itu lagi <em>booming-</em>nya Liga Italia. Apalagi kemudian disiarkan secara <em>live</em> di tv. Liga Inggris belum setenar saat ini. Apatah lagi Liga Indonesia. <span style="text-decoration:line-through;">Yang saya tahu hanya kerusuhannya (barangkali)</span>. Tapi denger-denger, timnas Indonesia akan bertanding lawan MU. Bukan main.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Sekarang sudah tidak begitu ‘maniak’ lagi. Tapi tetap senang dengan sepakbola. Mengikuti perkembangannya sedikit-sedikit. Nonton sesekali. Maen sesekali juga. <span style="color:#ff0000;">Hayo, siapa yang mo ngajak maen futsal?</span> Kalo tidak bisa menonton ya sudahlah, tak apa. Toh bisa melihat di berita olahraga maupun <em>highlight</em>. Apalagi sekarang jamannya internet. Ada konten yang namanya <em>rss feed</em>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">Kok malah jadi mbahas bola sih?</span> <em>Intermezzo</em> saja. Ngomongin soal bola, saya jadi ingat perkataan seorang Ustadz dalam pengajian menanti buka puasa di masjid kampus UGM tahun lalu. <span style="color:#ff0000;"><span style="color:#ff0000;">Emang Ustadznya ngomongin bola ya?</span> </span>Gak lah. Cuman ada nasehat dari beliau. Ada hubungannya dengan bola dan cinta. Jadi, Ustadznya ngomong begini kawan,</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span id="more-33"></span>“Sesungguhnya nanti di akhirat, kita akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang kita cintai.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Contoh niy, ada orang yang gemar menonton sepakbola. Cinta mati dah pokoknya. Sampai-sampai di mobilnya ada tulisan salah seorang pemain bola ternama (kelas dunia) yang digemarinya. Sebut saja si Fulan, sang tendangan pisang. Maka nanti di akhirat kelak, mungkin saja dia bisa berkumpul dengan si Fulan ‘tendangan pisang’, pemain bola idamannya tersebut. Wallahu a’lam, bisa berkumpul di neraka ataupun di surga.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Demikian pula bila kita cinta kepada Rasulullah yang menjadi panutan kita dalam segala hal. Maka insya Alloh di akhirat nanti, semoga kita termasuk orang-orang yang dikumpulkan bersama beliau. Aamiin. Dan jelas di surga tempatnya.</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Berarti kita harus hati-hati mengejawantahkan rasa cinta ini. Gak sembarangan. Soalnya ini menentukan domisili kita nantinya di tempat yang abadi, yaitu di akhirat. Tentu surga yang diharap. Pasti!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">Lantas, siapakah yang kita cintai? Di era globalisasi ini, kemana kira-kira kekaguman dan decak ketakjuban kita hadapkan di seantero jagad raya yang luas dan parade sejarah yang telah begitu panjang ini?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Tentu saja akan ada yang menjawab, tidak pantas seorang muslim mengambil idola selain Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Subhanallah!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">Kalo begitu, seberapa kenal kita dengan beliau? Sudahkah kita benar-benar mencintai Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam dan kita jadikan teladan? Atau jangan-jangan rasa cinta kita hanya sekedar pemanis bibir saja? Hanya tulisan di kertas saat mengisi biodata pada kolom tokoh idola/panutan?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Seorang tokoh panutan itu, menurut penuturan akh Salim A. Fillah dalam bukunya ‘NPSP’, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi.</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Pertama</strong>, harus jelas bahwa dia adalah tokoh yang memang ada. <strong>Kedua</strong>, segala pernak-pernik kehidupannya harus lengkap tercatat secara objektif, tanpa bumbu-bumbu palsu dan ‘pemanis buatan’. <strong>Ketiga</strong>, sisi hidupnya sedapat mungkin sesuai dengan kondisi kita. <strong>Keempat</strong>, kita pilih yang kehidupannya tanpa cacat, terutama di penghujungnya. <strong>Kelima</strong>, (ini yang terpenting), dia harus benar-benar bisa dan mungkin untuk dicontoh.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Konkretnya begini nih.<strong> Pertama</strong>, pasti kita setuju bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah figur sejarah yang kesejarahannya tak terbantahkan. Beliau bukan tokoh fiktif, rekaan, mitos, legenda, ataupun cerita rakyat. Beliau nyata.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Kedua</strong>, tak ada satu pun tokoh sejarah yang riwayat hidupnya, tindak-tanduknya, ucapannya, cara hidupnya, dan seluruh pernik kesehariannya tercatat selengkap beliau. Bahkan catatan itu pun dibuat seteliti mungkin, dibersihkan dari praduga, kira-kira dan segala syak wasangka. Dan andai kita pernah membohongi ayam dengan, “Kur…kur…kur!” misalnya, Imam al-Bukhari ataupun Imam Muslim bin Hajjaj akan mencoret nama kita dari daftar orang yang dipercaya periwayatannya tentang beliau.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Ketiga</strong>, ada alasan lain yang membuat seseorang tidak bisa tidak harus menjadikannya sebagai uswah dan qudwah. Kehidupan beliau begitu multidimensi, merangkum semua kemuliaan yang harus dimiliki seorang mukmin dalam dalam posisi apapun yang ia duduki. Kaya iya, miskin juga sering. Bangsawan iya, tapi hidupnya menjelata. Administrator iya, orang lapangan juga iya. Orasinya memukau, sifat pendiamnya mempesona. Pemberani sangat, pemalu pun sangat. Menjadi suami yang membina rumahtangga dengan satu istri dan lebih tua, pernah. Dengan beberapa istri yang lebih muda, juga pernah.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Keempat</strong>, malu rasanya kalau harus mengganti posisinya sebagai uswah dengan tokoh apa pun yang tak jelas, apalagi yang punya cacat. Sekali lagi, hanya beliau satu-satunya tokoh sejarah yang seluruh sisi perjalanan hidupnya lengkap tercatat, dan sungguh semua itu tanpa cacat!!!</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>Kelima</strong>, bahwa beliau adalah manusia, tentu menjadi alasan tersendiri untuk dicontoh ummatnya yang juga sama-sama manusia. Ummat ini beruntung tidak diperintahkan untuk meneladani ‘manusia setengah dewa’ dalam mitos dan legenda seperti di Yunani, ataupun meniru para ‘titisan dewa’ dalam Ramayana dan Mahabharata. Ummat ini ‘hanya’ diperintahkan untuk mencontoh sesamanya, yaitu seorang manusia lain yang berpredikat ‘hamba Alloh dan RasulNya’.</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kalau ingin lebih banyak mengenal beliau, ya tentu kita harus membaca Sirah Nabawiyah, kisah teladan para pendahulu kita yang mulia dari kalangan para nabi, sahabat, tabi’in, dan para ‘ulama. Apalagi saat ini kurangnya semangat keteladanan. Banyak para pemuda yang mencari-cari keteladanan agar bisa dijadikan contoh. Konon, banyak membaca biografi memang sangat mudah membentuk karakter seseorang.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kalau semasa SD dulu, kita diajari dalam mata pelajaran agama tentang mukjizat-mukjizat yang dialami oleh para Nabi. Maka saat ini, dengan membaca Sirah Nabawi, maka kita bisa menyelami kehidupan beliau. Bagaimana beliau menjalani masa kecilnya, melalui masa remajanya, hingga kemudian diangkat menjadi seorang Rasul. Bagaimana kepemimpinannya, bagaimana beliau berukhuwah, bagaimana kehidupan rumah tangganya, dan masih banyak lainnya. Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Saat ini memang sulit rasanya untuk mencari tokoh yang bisa dijadikan sebagai anutan. Ada pesan yang bijak, apabila anda tidak menemukan contoh teladan, maka bawalah orang-orang kembali menuju contoh teladan yang hakiki, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Suatu waktu, ‘Umar pernah berujar kepada Rasulullah, “Ya Rasulallah, aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum, “Tidak wahai ‘Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Ya Rasulallah”, kata ‘Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai dari apapun di dunia ini.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”, balas Rasulullah.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">Nah, siapakah yang kau cintai kawan? Sudahkah kita seperti ‘Umar yang mencintai beliau melebihi apapun di dunia ini?</span><span style="color:#008000;"> </span>Yang menurut akh Salim dalam JCPP, ternyata cinta bagi ‘Umar adalah kata kerja. Ya kata kerja. Karena ‘Umar begitu mudah menata ulang cintanya dalam sekejap. Dari mencintai Rasulullah seperti mencintai dirinya, dia ubah menjadi melebihi cintanya pada apapun di dunia. Hanya sekejap! Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencintai. Meskipun ada yang bilang, cinta itu datang dari hati. Tapi ‘Umar tak berumit-rumit dengan apa yang ada dalam hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalihnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><strong>“Sungguh telah ada bagi kalian, pada diri Rasulillah itu suri teladan yang baik. Bagi orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Alloh, dan hari akhir. Dan dia banyak mengingat Alloh.” [Al-Ahzab: 21]</strong></p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">“Aku melihat seorang laki-laki yang tampan,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">berbadan tegap, berwajah cerah, berkepala sedang, tidak besar tidak pula kecil,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">berakhlak mulia, berbudi pekerti baik, berbola mata hitam, bulu matanya panjang,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">bersuara sedikit serak, putih matanya sangat putih, hitam matanya sangat hitam,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">kedua alisnya melengkung dan hampir bertemu,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">lehernya panjang, jenggotnya lebat,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">jika diam dia diliputi oleh ketenangan,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">jika dia berbicara dia dinaungi oleh kewibawaan,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">ucapannya manis, tegas, tidak pendek, tidak bertele-tele,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">kata-katanya seperti untaian mutiara yang tertata rapi,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">dari jauh dialah orang yang paling tampan dan menawan,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">dari dekat dialah orang yang paling manis dan baik, berbadan sedang,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">mata tidak mencelanya karena kepanjangan dan mata tidak menjelekkannya karena kependekan,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">seperti dahan pohon di antara dua pohon yang pendek dan panjang,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">paling indah dipandang dari tiga, paling harum baunya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">Dia memiliki teman-teman yang menghormatinya,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">jika dia berbicara mereka mendengar ucapannya,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">jika dia memerintah mereka berlomba-lomba melaksanakannya,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">mereka berbondong-bondong membantu dan melayaninya,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">tidak bermuka masam dan tida lemah pendapat.”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="color:#008000;">[Perkataan Ummu Ma’bad -seorang wanita yang mana Rasulullah dan Abu Bakr pernah singgah minum padanya pada saat hijrah ke Madinah- tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam]</span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">So, siapa yang kau cintai?</span> <span style="text-decoration:line-through;">Ouw…no,no,no,no,no. Jangan saya, jangan saya.<br />
</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">*dilempar do’a en duit 100rb-an* <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kicaukata.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kicaukata.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kicaukata.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kicaukata.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kicaukata.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kicaukata.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kicaukata.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kicaukata.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kicaukata.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kicaukata.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=33&subd=kicaukata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kicaukata.wordpress.com/2009/05/01/siapa-yang-kau-cintai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96fdcc2a3caabd8f4110d8f78eeeed44?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merapi pun Bertasbih!</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/24/merapi-pun-bertasbih/</link>
		<comments>http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/24/merapi-pun-bertasbih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 17:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>just azzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[mencoba berpuisi]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[bertasbih]]></category>
		<category><![CDATA[gelombang]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keindahan]]></category>
		<category><![CDATA[kuda besi]]></category>
		<category><![CDATA[lukisan]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Kuasa]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Sempurna 'ilmu-Nya]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[menyaksikan]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[ombak]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>
		<category><![CDATA[pemandangan]]></category>
		<category><![CDATA[pesona Merapi]]></category>
		<category><![CDATA[sabda]]></category>
		<category><![CDATA[subhanallah]]></category>
		<category><![CDATA[tasbih]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[utara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kicaukata.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[suatu pagi itu
kuputuskan untuk keluar rumah
sekedar kutunai janji dengan seorang sahabat
lalu kupacu kuda besi tuaku
dalam perjalanan
aku melihat lukisan alam yang menakjubkan
Merapi berdiri kokoh nun jauh di Utara
sebuah pemandangan yang luar biasa indah
aku jadi ingat akan sabda Nabi,
&#8220;Sesungguhnya Alloh itu indah dan mencintai keindahan.&#8221;
Subhanalloh!, aku bertasbih dalam hati
Maha Suci Alloh yang telah menciptakan alam seindah ini
dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=20&subd=kicaukata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">suatu pagi itu</p>
<p style="text-align:center;">kuputuskan untuk keluar rumah</p>
<p style="text-align:center;">sekedar kutunai janji dengan seorang sahabat</p>
<p style="text-align:center;">lalu kupacu kuda besi tuaku</p>
<p style="text-align:center;">dalam perjalanan</p>
<p style="text-align:center;">aku melihat lukisan alam yang menakjubkan</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-20"></span>Merapi berdiri kokoh nun jauh di Utara</p>
<p style="text-align:center;">sebuah pemandangan yang luar biasa indah</p>
<p style="text-align:center;">aku jadi ingat akan sabda Nabi,</p>
<p style="text-align:center;">&#8220;Sesungguhnya Alloh itu indah dan mencintai keindahan.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;">Subhanalloh!, aku bertasbih dalam hati</p>
<p style="text-align:center;">Maha Suci Alloh yang telah menciptakan alam seindah ini</p>
<p style="text-align:center;">dan aku yakin, Merapi itupun bertasbih</p>
<p style="text-align:center;">menyucikan asma Alloh, menyucikan Alloh dari sifat kurang</p>
<p style="text-align:center;">bertasbih dengan caranya</p>
<p style="text-align:center;">sebagaimana matahari dengan sinarnya, bertasbih di peredarannya</p>
<p style="text-align:center;">sebagaimana angin dengan hembusannya, bertasbih di alirannya</p>
<p style="text-align:center;">sebagaimana ombak dengan gelombangnya, bertasbih di deburannya</p>
<p style="text-align:center;">dan keindahan pesona Merapi pagi itu</p>
<p style="text-align:center;">menjelaskan kepada siapa saja yang menyaksikan</p>
<p style="text-align:center;">bahwa Tuhan yang menciptakan gunung kokoh luar biasa ini</p>
<p style="text-align:center;">adalah Tuhan Yang Maha Kuasa</p>
<p style="text-align:center;">Yang Maha Sempurna &#8216;ilmu-Nya</p>
<p style="text-align:center;">dan jelas Tuhan itu hanya boleh satu adanya</p>
<p style="text-align:center;">tak mungkin dua, tiga, dan seterusnya</p>
<p style="text-align:center;">tak mungkin!</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>~19 April 2009, di sepagi Jogja memandang jauh ke Utara~</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kicaukata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kicaukata.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kicaukata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kicaukata.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kicaukata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kicaukata.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kicaukata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kicaukata.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kicaukata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kicaukata.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=20&subd=kicaukata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/24/merapi-pun-bertasbih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96fdcc2a3caabd8f4110d8f78eeeed44?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azzam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepucuk Surat Untuk Ibu</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/18/sepucuk-surat-untuk-ibu/</link>
		<comments>http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/18/sepucuk-surat-untuk-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 13:52:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>just azzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[emak]]></category>
		<category><![CDATA[gadis]]></category>
		<category><![CDATA[hakikat]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jantung hati]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[kedudukan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[melahirkan]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[mungil]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[pelipur lara]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[putri]]></category>
		<category><![CDATA[rasa]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>
		<category><![CDATA[suster]]></category>
		<category><![CDATA[tangis]]></category>
		<category><![CDATA[ummi]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kicaukata.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat, sesungguhnya tidak akan tahu kedudukan seorang ibu, kecuali adalah seorang wanita. Seorang wanita yang akan mengerti kedudukan ibu. Di bawah ini sebuah surat yang ditulis oleh seorang wanita pada hari ia melahirkan anak pertamanya di rumah sakit. Lihatlah bagaimana ia baru memiliki seorang ibu. Maka ia berkata dalam suratnya tersebut:

Ibu&#8230;!
Saat ini aku sungguh mencintaimu.
Aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=12&subd=kicaukata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sahabat, sesungguhnya tidak akan tahu kedudukan seorang ibu, kecuali adalah seorang wanita. Seorang wanita yang akan mengerti kedudukan ibu. Di bawah ini sebuah surat yang ditulis oleh seorang wanita pada hari ia melahirkan anak pertamanya di rumah sakit. Lihatlah bagaimana ia baru memiliki seorang ibu. Maka ia berkata dalam suratnya tersebut:</p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_7Cil1wIKUYc/STlU21WJ2vI/AAAAAAAAABY/eKslDh9HTsg/s320/surat-surat.gif"><img class="aligncenter size-medium wp-image-16" title="surat" src="http://kicaukata.files.wordpress.com/2009/04/surat-surat.gif?w=298&#038;h=300" alt="surat" width="298" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Ibu&#8230;!</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Saat ini aku sungguh mencintaimu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku sungguh mencintaimu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Cinta yang tidak pernah kurasakan sebelumnya dalam kehidupanku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Untuk pertama kalinya dalam kehidupan</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>bahwa segala sesuatu di sekelilingku dipenuhi dengan perasaan cinta yang baru ini.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Semua yang ada di dalam diri terasa berguncang hebat.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Sungguh! sekarang ini aku selalu mencintaimu wahai ibu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Akan tetapi, aku tidak pernah memahami hakikat cinta itu dengan sebenarnya kecuali pada hari ini.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Sebuah keganjilan dari perasaan ini meliputiku pada saat ini.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Setelah bertahun-tahun berlalu hidup di sampingmu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Sebagaimana tumbuhnya seorang gadis bersama ibunya.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Sepanjang umurku aku melihat belaian cintamu</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>dan merasakan desatan kasih sayangmu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Semenjak aku bayi mungil,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>gadis kecil,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>hingga aku sekarang dewasa,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>yang telah siap bertemu dengan dunia yang jauh dari rumah orangtuanya dan kerabatnya.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Selama itu aku selalu heran.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Setiap kali aku melihat kasih sayangmu kepada kami,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>pengorbananmu terhadap kami anak-anakmu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Sehingga aku bertanya-tanya,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong><span id="more-12"></span>dari jenis manusia apa?</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Seseorang yang tidak pernah ragu satu kalipun untuk memberikan kehidupannya</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>dan semua yang ia miliki untuk kami dalam rangka kebahagiaan kami.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Manusia apa? Yang sepanjang umurku aku memanggilnya dengan ibu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Dari bahan apa ia diciptakan?</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Dan dari hati yang mana ia diciptakan?</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Hati yang tidak pernah mengenal kecuali kasih sayang kepada anak-anaknya.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Yang keluar dari perutnya tersebut.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Bersamaan dengan tangis bayi baruku wahai ibu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Baru aku mengetahui.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Bersamaan dengan tangis bayi baruku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Baru aku sadar.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Dari tawa bayiku wahai ibu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Baru aku belajar.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Bersama nafasnya yang hangat lagi wangi ketika aku memeluknya di pangkuanku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Baru aku mendapatkan jawaban.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Baru aku memperoleh jawaban yang selama ini membingungkanku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Setiap kali melhat wajahmu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Atau aku memperhatikan kedua matamu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Sekarang aku baru mengetahui hakikat-hakikatnya.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Hari ini baru aku mengetahui tentang hakikat seorang ibu, wahai ibu!</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Karena aku telah menjadi ibu dari bayi mungilku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Sekarang aku melihat diriku berperan.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku melihat semua kehidupanku semenjak aku datang.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Kedalam kehidupan dunia hingga aku dewasa.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Menikah sampai Alloh menganugerahkan bayi mungil lagi cantik ini.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Ibu&#8230; proses melahirkan sangat berat bagiku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku benar-benar merasa tersiksa.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku berharap sekiranya engkau datang untuk berada di sebelahku</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>pada detik-detik yang ditunggu oleh setiap ibu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Akan tetapi aku mengerti keadaanmu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku mengetahui kesibukanmu dalam mengurusi rumah tangga.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku telah rasakan sakitnya melahirkan.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Sekarang aku tidak lagi merasakan, kecuali detak jantungku yang dipenuhi cinta</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>dan kasih sayang yang memenuhi kehidupan baruku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku melihat bayiku dibawa oleh suster</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>dan meletakkannya di sampingku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku perhatikan bayiku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku tatap mahkluk kecil ini.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Yang selama sembilan bulan penuh aku bawa dalam perutku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Aku duduk bersamanya dan untuknya.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Makan dengan takaran,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>tidur dengan hati-hati,</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>bergerak dengan hati-hati.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Seakan-akan aku membawa sesuatu yang paling berharga dari harta karun dunia.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Dialah kehidupan baruku wahai ibu.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Dialah kehidupanku, jiwaku, dan semua yang aku miliki.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Dialah putriku.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Alangkah indahnya gambaran kehidupan yang selalu berulang.</strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>Sambutlah kecupanku dan kecupan si kecil cucumu.</strong></span></p>
<p>Surat ini dibuat oleh seseorang yang baru mengetahui tentang kedudukan ibunya setelah ia melahirkan. Bagaimana kasih sayang ibunya selama ini, ia tidak mengenalnya. Dia tidak tahu bagaimana bisa seorang yang lemah, ia bekerja tanpa pamrih. Ia berbuat, ia beramal, ia bekerja.</p>
<p>Dan untuk ibuku&#8230;</p>
<blockquote><p>Ibu&#8230;aku sungguh mencintaimu. Maafkanlah putramu ini wahai ibu.</p>
<p>Kan kutunaikan amanahku di kota pelajar ini</p>
<p>Segera!</p></blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kicaukata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kicaukata.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kicaukata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kicaukata.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kicaukata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kicaukata.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kicaukata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kicaukata.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kicaukata.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kicaukata.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=12&subd=kicaukata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/18/sepucuk-surat-untuk-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96fdcc2a3caabd8f4110d8f78eeeed44?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azzam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kicaukata.files.wordpress.com/2009/04/surat-surat.gif?w=298" medium="image">
			<media:title type="html">surat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terbuang Percuma</title>
		<link>http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/12/terbuang-percuma/</link>
		<comments>http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/12/terbuang-percuma/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 10:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>just azzam</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[ibsn]]></category>
		<category><![CDATA[kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[menunda]]></category>
		<category><![CDATA[mudah-mudahan]]></category>
		<category><![CDATA[nanti]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[penyesalan]]></category>
		<category><![CDATA[percuma]]></category>
		<category><![CDATA[seandainya]]></category>
		<category><![CDATA[terbuang]]></category>
		<category><![CDATA[terlambat]]></category>
		<category><![CDATA[tunda]]></category>
		<category><![CDATA[waktu luang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kicaukata.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[
Yang bisa membunuh qt salah satunya adalah perbuatan menunda-nunda.
&#8220;Barangsiapa&#8221;, sebagaimana kata-kata orang bijak
&#8220;yang menanam benih NANTI
akan tumbuh sebuah tanaman
yang bernama MUDAH-MUDAHAN,
yang memiliki buah, namanya SEANDAINYA,
yang rasanya adalah KEGAGALAN dan PENYESALAN.&#8221;
ah&#8230; Ini bagai cambuk diri ini. Betapa sy masih suka menunda. Berapa banyak kata &#8216;nanti&#8217; yg terucap oleh lidah sy dan terbersit di hati sy? Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=3&subd=kicaukata&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-medium wp-image-7" title="indahnya-kebun-teh1" src="http://kicaukata.files.wordpress.com/2009/04/indahnya-kebun-teh1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="indahnya-kebun-teh1" width="300" height="225" /></p>
<p>Yang bisa membunuh qt salah satunya adalah perbuatan menunda-nunda.</p>
<p>&#8220;Barangsiapa&#8221;, sebagaimana kata-kata orang bijak</p>
<p>&#8220;yang menanam benih NANTI</p>
<p>akan tumbuh sebuah tanaman</p>
<p><span id="more-3"></span>yang bernama MUDAH-MUDAHAN,</p>
<p>yang memiliki buah, namanya SEANDAINYA,</p>
<p>yang rasanya adalah KEGAGALAN dan PENYESALAN.&#8221;</p>
<p>ah&#8230; Ini bagai cambuk diri ini. Betapa sy masih suka menunda. Berapa banyak kata &#8216;nanti&#8217; yg terucap oleh lidah sy dan terbersit di hati sy? Dan akhirnya&#8230; semuanya menjadi terbuang percuma. :&#8217;(</p>
<p>ah&#8230; penyesalan emang selalu terlambat menyerta. Nasi telah menjadi bubur. Layaknya sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam,</p>
<p>&#8220;Ada dua nikmat&#8221;, jelas beliau.</p>
<p>&#8220;yang kebanyakan orang tertipu karenanya:</p>
<p>kesehatan dan waktu luang.&#8221;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kicaukata.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kicaukata.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kicaukata.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kicaukata.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kicaukata.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kicaukata.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kicaukata.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kicaukata.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kicaukata.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kicaukata.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kicaukata.wordpress.com&blog=7327952&post=3&subd=kicaukata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kicaukata.wordpress.com/2009/04/12/terbuang-percuma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96fdcc2a3caabd8f4110d8f78eeeed44?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azzam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kicaukata.files.wordpress.com/2009/04/indahnya-kebun-teh1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">indahnya-kebun-teh1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>